Jakarta – Akhir tahun lalu dua rumah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat mendapat bantuan renovasi dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP). Salah satu rumah tersebut berukuran kecil 3×4 meter, tetapi dihuni oleh 11 orang di dalamnya.
Rumah itu merupakan kediaman milik Tatang (71) yang bekerja sebagai buruh. Setelah 2 bulan renovasi, kini rumah tersebut telah rampung dan siap ditempati.
Dalam pantauan Wartawan, rumah Tatang telah dibangun ulang dengan material permanen dan dicat rapi. Rumah tersebut pun diperluas menjadi 27,72 meter persegi dengan luas lahan 13,68 meter persegi.
Bagian fasadnya minimalis, tetapi lebih layak dan modern berwarna krem. Terdapat jendela kecil yang bisa digeser ke samping. Di lantai pertama terdapat dapur mini lengkap dengan wastafel, kamar mandi di belakangnya dan tangga berbahan besi. Di bawah tangga terdapat ruang kosong yang bisa digunakan untuk meletakkan barang.
Saat dicoba, tangganya cukup curam untuk naik dan turun. Namun, ada pengaman tangan sehingga bisa lebih aman ketika digunakan.
Di lantai dua, terdapat dua kamar yang hanya muat untuk 1 orang masing-masing. Dilengkapi dengan pintu geser dan jendela. Meskipun sederhana, rumah tersebut tampak layak dan nyaman ditempati.
Saat ditemui di rumahnya, istri Tatang menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah karena sudah merenovasi rumahnya.
“Terima kasih rumah saya sudah direnovasi yang tadi tidak nyaman, sekarang alhamdulillah nyaman,” ujarnya saat ditemui di Menteng, pada Rabu (28/1/2026).
Rasa bahagia juga turut dirasakan oleh keluarga Sapri yang juga ikut direnovasi oleh pemerintah bersamaan dengan rumah Tatan. Rumah Sapri jauh lebih luas dari milik Tatan, yakni sekitar 74,5 meter persegi.
Rumah tersebut semula hanya dibangun dengan material semi permanen dan banyak tambalan di bagian luar. Setelah direnovasi rumahnya dibangun kembali dengan hebel dan material permanen yang jauh lebih kokoh.
Kediaman Sapri hanya terdiri dari 1 lantai. Di dalamnya terdapat ruang tamu atau ruang keluarga yang luas di sisi kiri pintu masuk dan dua buah kamar yang luas di sisi kanan. Kemudian, ada pintu belakang yang mengarah ke halaman belakang yang terbuka.
Di bagian belakang ini, terdapat dapur mini lengkap dengan wastafel di sisi kanan rumah dan kamar mandi di sisi kirinya. Tampilan rumah Sapri mirip dengan desain rumah subsidi yang minimalis, tetapi nyaman.
Saat ditemui di rumahnya, anak Sapri menyampaikan rasa terima kasih kepada pemerintah karena sudah merenovasi rumahnya layaknya rumah-rumah di perumahan masa kini.
“Kalau hujan, dari tahun lalu, tahun lalu, tahun lalu, ada ketakutan, nanti kita Desember (2025) kita gimana ya Bu? Kita sampai berharap, mencari bank mana yang mau kasih bantuan ini. Lewat saudara kita miskin, saudara siapa yang ingat kita orang miskin. Akhirnya kita bertiga duduk, berdoa dengan hati masing-masing, ‘Tuhan siapa yang bisa berbagi ke tempat saya?’ Saya berharap ada jawaban. Nggak lama ada kunjungan pak RT, pak RW, lurah, datanglah bapak Maruarar Sirait malam itu juga,” terang keluarga Sapri.
Ada pun, desain rumah Tatan dan Sapri dibuat oleh Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP) Elias Wijaya Pangabean dan kontraktornya adalah Hanif dengan timnya.
Hanif mengatakan rumah tersebut selesai dalam waktu 2 bulan dengan anggaran sekitar Rp 200 jutaan untuk dua rumah tersebut.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait (Ara) mengapresiasi hasil kinerja kontraktor.
Sebelumnya diberitakan, rumah Tatan dan Sapri sudah mulai dibangun sejak akhir November 2025. Rumah Tatan dibuat dua lantai dengan beberapa kamar tidur. Ukuran rumahnya juga akan diperluas menjadi 2,84×5 meter.
Sementara itu, anggota keluarga tinggal di sebuah kontrakan selama dua bulan ke depan. Menurutnya, rumahnya akan selesai kurang dari dua bulan.
Terpisah, rumah kumuh lain di kawasan itu juga telah dibongkar. Rumah milik pasangan lansia, Sapri dan Rukmini berdiri di lahan seluas 74,5 meter persegi. Rudy Pringadi (63), anak pertama keluarga Sapri, mengatakan pekerja bangunan sudah membongkar rumahnya. Lalu, besi-besi rangka pun dipasang.
“Tukang minggu kemarin udah mulai urug-urug sesudah dibongkar,” ucap Rudy.
Sementara waktu, keluarganya yang terdiri dari delapan orang mengontrak rumah di RT sebelah. Kemudian, ada tambahan anggota keluarga juga ikut menumpang di kontrakan itu.

Mar.


















































