Mengapa Gengsi Menghantui Pesta Adat Batak , Quo Vadis LABB ?

oleh -5032 Dilihat

Mengapa Gengsi Menghantui Pesta Adat Batak , Quo Vadis LABB ?

Oleh: Hojot Marluga

Tulisan ini saya mulai dari pertanyaan. Dan pasti banyak dalam narasinya pertanyaan. Sebenarnya untuk menggugah dan merefleksi. Apakah kita tidak merasakan keresahan anak-anak muda Batak komersialisasi pesta pernikahan adat Batakv? Apakah kita telah melupakan makna sebenarnya dari pernikahan adat Batak, yaitu sebagai sebuah upacara sakral yang menghubungkan dua keluarga ?
Pernikahan adat Batak, sebuah simfoni tradisi yang mengalun dalam irama keluarga. Tidak harus mewah, namun kerap terasa besar karena gelombang tradisi yang membawanya. Sinamot (mahar), ulos yang membungkus kasih, dan Martonggo Raja, pertemuan agung keluarga besar, semua menjadi babak penting dalam epos pernikahan ini.

Bagi generasi muda, berharap ada ruang untuk menyederhanakan, untuk menari di antara tradisi dengan langkah modern. Konsep di taman, acara inti yang fokus, semua bisa menjadi pilihan. Yang tak bisa disederhanakan adalah akar fundamental: larangan menikah semarga, dan meminta restu dari Tulang, penjaga tradisi dan kasih sayang. Dalam kesederhanaan, esensi tetap terjaga, dan cinta tetap menjadi irama utama.

Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun, tapi saya ingin mengajak kita semua untuk berpikir lebih dalam tentang apa yang kita lakukan di Jakarta. Apakah kita ingin terus mengikuti tren dan tradisi yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kita, ataukah kita ingin kembali ke akar budaya kita dan menghidupkan kembali makna sebenarnya dari pernikahan adat Batak ?

Tapi, mari kita lihat lebih dalam, apakah kita benar-benar mempertimbangkan biaya yang kita keluarkan untuk pesta pernikahan? Atau kita hanya ingin memenuhi ekspektasi sosial dan keluarga ?

Bicara pernikahan, berarti bicara biaya yang harus siap dikeluarkan besar atau mahal. Tapi apa yang sebenarnya kita dapatkan dari biaya yang kita keluarkan? Apakah kita benar-benar mendapatkan nilai yang sepadan dengan uang yang kita keluarkan? Atau kita hanya menciptakan hutang dan stres yang tidak perlu? Faktanya banyak pesta pernikahan digelar tetapi karena berutang.

Setuju bahwa adat Batak adalah sesuatu yang unik dan perlu dilestarikan. Namun, saya juga ingin menambahkan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pesta adat Batak yang mencapai ratusan juta rupiah bahkan ada yang sampai miliaran, membuat saya mempertanyakan apakah kita telah terlalu berlebihan dalam melaksanakan adat ini?

Lagi, saya paham bahwa adat istiadat adalah identitas kita sebagai bangsa Indonesia, tapi apakah kita harus menghabiskan uang sebanyak itu ?
Apakah kita tidak bisa menemukan cara yang lebih sederhana dan lebih bermakna untuk melaksanakan adat Batak?

Awalnya kita berharap banyak ke LABB, singkatan dari Lokus Adat Budaya Batak, telah mencoba menyederhanakan pesta adat Batak, khususnya pernikahan di Jakarta. Mereka berjuang sejak 2018 untuk membawa pembaruan adat yang lebih esensial, efektif, dan efisien. Namun, di Jakarta, upaya ini seperti angin lalu, tidak meninggalkan bekas yang signifikan.

Faktanya, pesta adat Batak di Jakarta tetaplah megah, seperti tak tersentuh oleh seruan penyederhanaan. Tradisi yang kuat, gengsi yang tinggi, dan ekspektasi keluarga yang besar, semua menjadi rantai yang sulit diputuskan. LABB mungkin telah berupaya, tapi tantangannya terlalu besar, dan hasilnya, upaya mereka gagal, tidak berhasil. Walau pun kita tak boleh berputus asa.

Kita perlu kepada makna, bahwa adat itu tak perlu berlebihan, yang terpenting esensi, sesuai wejangan para tetua bahwa pernikahan tidak harus bermegah-megah, yang penting adalah unsur adat yang diwajibkan ada unsur Dalihan Na Tolu bisa dilaksanakan. Mestinya kita fokus pada makna sebenarnya dari adat Batak, bukan hanya pada biaya yang dikeluarkan besar.

Apalagi mayoritas orang Batak masih hidup di perantauan sulit, ekonomi tidak mudah, apalagi menyiapkan biaya untuk pesta adat yang bisa mencapai ratusan juta rupiah. Tapi, ada yang lebih menyakitkan adalah ketika kita memilih untuk tidak mengadakan pesta adat yang megah, kita akan dihakimi oleh orang banyak.
Tapi, apakah gengsi itu benar-benar pentingb? Apakah kita harus menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk memenuhi ekspektasi sosial dan keluarga? Saya tidak berpikir begitu. Saya percaya bahwa pernikahan adalah tentang cinta dan komitmen dua orang, bukan tentang gengsi atau harga diri.

Bahwa “yang mahal itu bukan pernikahannya, tapi gengsinya”. Kita terlalu fokus pada gengsi dan lupa bahwa pernikahan adalah tentang cinta, kasih.

Belum lagi gedung adat Batak di Jakarta, rata-rata berkapasitas seribu orang, dengan biaya sewa yang berkisar 50-100 juta rupiah untuk satu hari. Gedung-gedung tertentu sudah dikenal sebagai gedung mewah, sehingga jika pesta diadakan di sana, pasti yang punya Ulaon orang terpandang dan semua tamu akan terkesan.

Katering pun tidak kalah pentingnya. Vendor katering biasanya sudah punya minimum order tertentu, tergantung pada gedung dan kerjasama dengan vendor tersebut. Minimum ordernya bisa mencapai ribuan porsi untuk katering adat dan lima ratusan untuk katering nasional. Kekurangan makanan di pesta adat Batak adalah hal yang paling tabu, sehingga tuan rumah harus memastikan bahwa semua tamu terlayani dengan baik.

Sekali lagi, apakah kita harus menghabiskan uang sebanyak itu? Alasannya, sekali seumur hidup, jadi pengantin perempuan harus terlihat heboh bin glamor bin mewah. Dan, apakah pernikahan yang dibuat mewah itu sudah pasti tidak cerai ?

Sekedar perbandingan. Data statistik resmi perceraian di Jakarta memang tidak mengelompokkan kasus berdasarkan suku atau etnis, seperti Batak. Tetapi kita menggambil rata-rata. Kita bisa melihat gambaran umum angka perceraian di Jakarta. Pada tahun 2024, tercatat total 12.149 kasus perceraian di DKI Jakarta, dengan rasio perceraian mencapai 30% dari total pernikahan. Ini rata-rata tiap tahun. Ini menunjukkan bahwa hampir satu dari tiga pernikahan di Jakarta berakhir dengan perceraian. Faktor penyebab perceraian umumnya perselisihan dan pertengkaran namun faktor utama adalah ekonomi.

Demi kemewahan itu, kebaya brokat harus yang kualitas tinggi dan full payet, songket dan selendang harus baru berharga puluhan jutaan rupiah, make-up dan hair-do harus dari salon terkenal, tak lupa perhiasan emas yang bikin silau mata. Tapi, apakah semua itu benar-benar penting? Apakah kita tidak bisa lebih sederhana dan fokus pada yang lebih penting, yaitu kebahagiaan pengantin?

Tapi, yang lebih parah adalah ketika pengantin perempuan ditekan untuk memakai baju pengantin yang mewah, make-up yang berlebihan, dan perhiasan emas yang banyak, hanya karena ingin memenuhi ekspektasi keluarga dan tamu.

Kalau sampai ada pengantin Batak yang memakai baju pengantin warisan ibunya atau make-up dan rambut bergaya minimalis, sudah bisa dipastikan pengantin tersebut akan jadi bahan gunjingan tamu. Keluarga pengantin akan mendikte dan ‘menekan’ calon mempelai perempuan dengan kata-kata yang tidak menyenangkan, sehingga si pengantin perempuan menjadi stres dan tidak bisa menjadi dirinya sendiri di hari bahagianya.

Seragam tamu undangan pun tidak luput dari perhatian. Semua harus serba mewah dan serba baru, seolah-olah pesta adat Batak adalah ajang pamer kekayaan. Lagi, pernyataan menohok, apakah kita tidak bisa lebih sederhana dan fokus pada yang lebih penting, yang lebih bermakna? Entah sejak kapan dan dari mana kebiasaan memberikan seragam kepada para tamu undangan. Padahal seragam keluarga bukan suatu keharusan tetapi diada-adakan. Dalam pernikahan adat Batak, pasti keluarga mempelai mengalokasikan dana untuk membeli seragam keluarga. Padahal pembelian seragam ini termasuk salah satu unsur yang biayanya dapat ditekan.

Jujur saja, menurut saya terkadang ‘perseragaman’ ini memberatkan keluarga mempelai. Mengapa? Karena kalau hanya orang tertentu saja yang diberikan, yang lain akan iri. Bahkan ada yang terang-terangan bertanya, “seragam untuk saya mana?”. Masih mending hanya bertanya seperti itu, tapi ketika muncul satu pertanyaan lagi, “uang jahitnya mana?”. Tak terbayang pusingnya keluarga mempelai!

Berempatilah pada calon pengantin dan keluarganya. Lihat-lihat bagaimana latar belakang finansial keluarga tersebut sebelum meminta. Bahkan bila kalian dimintai bantuan untuk jadi bridesmaid atau bestman, terima lah dengan sungguh-sungguh (jika memang mau) tanpa meminta imbalan seragam, sepatu dan macam-macam. Jika calon pengantin mengalokasikan untuk itu syukuri, tapi jika tidak ya jangan protes apalagi menolak permintaan mereka.

Sinamot juga menjadi ketakutan untuk anak muda Batak menikah.
Seruan “turunkan harga sinamot” mulai terdengar di kalangan muda Batak, terutama di Jakarta, ini adalah respons terhadap tekanan ekonomi dan beban biaya pernikahan adat yang semakin tinggi. Sinamot, sebagai bagian penting dari tradisi pernikahan Batak, seringkali menjadi beban bagi keluarga mempelai laki-laki.

Seruan ini juga merupakan upaya untuk menyederhanakan proses pernikahan adat, sehingga lebih terjangkau dan tidak memberatkan keluarga. Namun, tantangannya adalah bagaimana menjaga esensi tradisi sambil membuatnya lebih realistis dan sesuai dengan kondisi ekonomi saat ini.

Lagi-lagi LABB sebagai lembaga adat, diharapkan dapat memainkan peran penting dalam menyosialisasikan dan mengimplementasikan perubahan ini. Tapi, apakah masyarakat Batak siap untuk menerima perubahan ini?
Besaran Sinamot ini tidak ada standar pastinya, tapi faktanya, semakin terpandang dan berpendidikan si mempelai perempuan, semakin tinggi pula Sinamot-nya. Apalagi jika Ulaon diselenggarakan oleh pihak perempuan, semakin besar pula Sinamot yang harus disiapkan.

Tapi, besaran Sinamot ini bisa jadi digunjingkan juga bila dianggap tidak sesuai atau tidak pantas bagi mereka yang mendengarnya.

Dengan adanya resiko-resiko di atas, mau tidak mau gengsi akan tetap ada dalam setiap pesta adat pernikahan Batak. Bagaimanapun keluarga menekan biaya, pada akhirnya biaya akan membengkak dengan adanya intervensi dari keluarga besar. Mengapa? Karena dalam acara tersebut yang terlibat tidak hanya keluarga inti kedua mempelai, melainkan seluruh marga yang berkaitan dengan keluarga kedua mempelai. Masing-masing mempunyai gengsi tersendiri supaya tidak dianggap remeh oleh marga yang lain.

Sekali lagi, saya bukannya menentang pesta adat semacam ini, sebagai 25 tahun jurnalis di segmed budaya Batak, saya hanya menyayangkan mereka-mereka yang memiliki sudut pandang yang mengedepankan dan mengutamakan gengsi di atas batas kemampuan. Bukankah esensi dari adat itu sendiri adalah kesakraklan dan makna yang harus diresapi sebagai pedoman kehidupan sehari-hari, dan bukannya mengutamakan gengsi semata?

Setelah beberapa tahun berdiri, LABB masih berjuang untuk membuat perubahan signifikan dalam menyederhanakan pesta adat Batak, terutama di Jakarta. LABB harus sosialisasi yang lebih efektif: LABB perlu meningkatkan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat Batak tentang pentingnya menyederhanakan pesta adat. LABB harus bekerja sama dengan komunitas Batak, tokoh adat, jurnalis Batak, dan Masyarakat Batak untuk membuat perubahan yang lebih luas, fokus pada menjaga esensi tradisi Batak, bukan hanya pada ritual-ritual yang tidak esensial. Jika LABB dapat melakukan hal-hal di atas, maka LABB dapat menjadi lembaga yang lebih efektif dalam menjaga dan mengembangkan budaya Batak. Namun, pertanyaan, apakah LABB siap untuk tantangan ini ?

Penulis adalah Ketua Pelaksana Forum Jurnalis Batak (FORJUBA)