BNPB Gelar Operasi Modifikasi Cuaca Antisipasi Cuaca Ekstrem di Jakarta

oleh -617 Dilihat

Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi atau cuaca ekstrem di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dimulai pada hari ini, Selasa (13/1/2026).

Direktur Dukungan Sumber Daya Darurat BNPB Agus Riyanto mengatakan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) direncanakan berlangsung selama lima hari ke depan.

OMC dilaksanakan sebagai langkah mitigasi untuk menghadapi potensi peningkatan curah hujan yang dapat memicu banjir dan genangan di wilayah Jabodetabek.

“Betul, hari ini mulai. Rencana lima hari ke depan, berikutnya akan melihat situasi kondisi eskalasi cuaca dan rekomendasi dari BMKG,” ujar Agus saat dikonfirmasi, Selasa (13/1/2026).

Menurut Agus, keberlanjutan OMC akan sangat bergantung pada perkembangan cuaca di lapangan serta hasil analisis dan prediksi yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Jika potensi cuaca ekstrem masih tinggi, BNPB membuka peluang untuk memperpanjang durasi OMC tersebut,” jelas Agus.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Isnawa Adji menyampaikan, koordinasi intensif telah dilakukan dengan BNPB terkait pelaksanaan OMC. BPBD DKI siap melanjutkan upaya modifikasi cuaca setelah pelaksanaan OMC oleh BNPB berakhir.

“Saya sudah koordinasi dengan Direktur BNPB. Jadi BNPB mengadakan OMC mulai hari ini sampai lima hari ke depan. Selanjutnya BPBD DKI bisa melanjutkan, tentunya juga berdasarkan hasil prediksi BMKG,” ucap Isnawa.

Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem

Berdasarkan laman resmi BPBD DKI Jakarta, peringatan dini dikeluarkan merujuk prakiraan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Oleh sebab itu, masyarakat di wilayah ibu kota diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak cuaca, terutama risiko genangan dan banjir lokal di wilayah rawan.

“Masyarakat diimbau selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari cuaca ekstrem,” demikian keterangan BPBD DKI Jakarta, dikutip Selasa (13/1/2026).

BPBD DKI juga meminta warga untuk menyiapkan perlengkapan dasar, seperti payung atau jas hujan, serta tas siaga bencana sebagai langkah antisipasi. Selain itu, masyarakat diimbau rutin memantau informasi perkembangan cuaca dan tinggi muka air melalui kanal resmi pemerintah.

Akses informasi tinggi muka air (TMA) dapat diakses di laman bpbd.jakarta.go.id/waterlevel, serta pemantauan potensi genangan dan banjir melalui situs pantauanjir.jakarta.go.id. Warga juga dapat melaporkan kejadian genangan atau banjir melalui aplikasi JAKI.

BPBD Jakarta: 1.137 Jiwa Mengungsi Imbas Genangan, Terbanyak di Semper Barat Jakut

Ratusan warga ibu kota terpaksa mengungsi akibat genangan yang melanda sejumlah wilayah di DKI Jakarta imbas hujan deras pada Senin 12 Januari 2026.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta mencatat ada 443 kepala keluarga (KK) dengan total 1.137 jiwa mengungsi hingga Selasa ini.

Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) BPBD DKI Jakarta Mohamad Yohan mengatakan, pengungsian tersebar di beberapa titik di Jakarta Barat (Jakbar) dan Jakarta Utara, dengan jumlah pengungsi terbanyak berada di Kelurahan Semper Barat, Jakarta Utara (Jakut).

“Di Rusun Embrio Semper Barat terdapat 207 KK atau 625 jiwa yang mengungsi,” kata Yohan dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026).

Selain Semper Barat, lanjut dia, pengungsi juga tercatat di Kelurahan Tegal Alur, Jakarta Barat (Jakbar), yang menampung 38 KK atau 153 jiwa.

Yohan mengatakan, pengungsi ditempatkan di Rusun dan RPTRA Alur Anggrek setelah genangan setinggi 30–35 sentimeter merendam permukiman warga akibat curah hujan tinggi.

“Di Jakarta Utara, pengungsian juga terjadi di sejumlah kelurahan. Di Kelurahan Kalibaru, sebanyak 50 KK atau 68 jiwa mengungsi di Gedung Pelayanan Masyarakat RW 13. Sementara itu, Kelurahan Sukapura menampung 25 KK atau 91 jiwa di Bengkel Mobil Gading Griya Lestari,” ucap dia.

Ada pun di Kelurahan Lagoa, lanjut Yohan, total 12 KK atau 25 jiwa mengungsi di Masjid Al Barokah dan Sekretariat RW 05.

“Di Kelurahan Warakas, BPBD mencatat 81 KK dengan 175 jiwa mengungsi di tiga lokasi berbeda, yakni Mushola Baiturrahim, Masjid Miftahulsalam, dan Mushola Al Wasilatul Iman,” papar dia.


Mar.