Mengapa Masih Hujan padahal Sudah Kemarau? Ini Jawaban BMKG

oleh -574 Dilihat

JAKARTA – Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Juli dan Agustus 2024.

Namun, masyarakat masih kerap merasakan hujan turun di wilayah tempat tinggalnya.

Pengguna media sosial X @ilycsb_, misalnya, mengungkapkan masih sering hujan meski telah kemarau. “Musim kemarau tapi masih hujan,” tulis warganet, Kamis (4/7/2024) malam.

Hal senada diungkapkan oleh akun @Alisius_J, yang mulai menerka apakah tidak ada musim kemarau.

“Hujan terus , ga ada kemarau kah ini,” kata dia, Kamis malam.

Lantas, mengapa masih sering hujan meski memasuki musim kemarau?

Penyebab musim kemarau tapi masih hujan

Deputi Bidang Meteorologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Guswanto membenarkan, sebagian besar wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau.

Namun, dia meluruskan, meski musim kemarau, bukan berarti tidak akan turun hujan sama sekali.

Hujan tetap akan turun, meskipun dengan intensitas rendah atau di bawah 50 milimeter (mm) per dasarian atau sepuluh hari.

“Bukan berarti dalam periode kemarau tidak ada hujan sama sekali. Tetapi ada hujan meski kisaran di bawah 50 mm per dasariannya,” jelasnya, dilansir dari laman BMKG, Kamis (4/7/2024).

Bahkan, Guswanto merinci, masih terdapat potensi peningkatan curah hujan secara signifikan di sejumlah wilayah Indonesia dalam sepekan ke depan.

Fenomena ini disebabkan oleh dinamika atmosfer skala regional maupun global yang cukup signifikan.

Beberapa di antaranya, adanya aktivitas fenomena Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, dan Gelombang Rossby Equatorial di sebagian besar wilayah Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Papua.

Selain itu, suhu muka laut yang hangat pada perairan wilayah sekitar Indonesia turut berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan awan hujan yang signifikan.

Fenomena atmosfer inilah yang memicu terjadinya dinamika cuaca yang berakibat masih turunnya hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” kata Guswanto.

Kendati demikian, menurut Guswanto, 77,27 persen wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada Juli dan Agustus 2024.

Sebanyak 63,95 persen di antaranya, durasi musim kemarau diprediksi akan terjadi selama 3 hingga 15 dasarian.

Potensi cuaca ekstrem 5-11 Juli 2024

Kepala Pusat Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani mengatakan, kombinasi pengaruh sejumlah fenomena cuaca diperkirakan menimbulkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat atau angin kencang.

Potensi cuaca tersebut diprakirakan akan melanda pada 5-11 Juli 2024, di sebagian Pulau Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi, Pulau Maluku, dan Pulau Papua.

Andri pun mengimbau kepada masyarakat untuk mewaspadai kemungkinan hujan yang dapat mengakibatkan bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan banjir bandang.

Khususnya, bagi masyarakat yang bermukim di wilayah perbukitan, dataran tinggi, serta sepanjang daerah aliran sungai.

“Selagi masih turun hujan, alangkah baiknya dimanfaatkan untuk menabung air. Hemat dan menggunakan air secara bijak, supaya memiliki cadangan air saat puncak musim kemarau melanda wilayah kita nantinya,” imbuh Andri.

Mar.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet