Jakarta – Pernahkah kau merasa.. Dompetmu hampa.. Pernahkah kau merasa.. Dompetmu kosong…
Lagu band Ungu dengan sedikit modifikasi lirik itu kerap menjadi ‘soundtrack’ bagi para pekerja Jakarta saat hari gajian tiba. Bagaimana tidak, belum berubah tanggal gajian, saldo sudah terkuras untuk membayar tagihan ini-itu.
Begini kronologi tragisnya: gaji masuk pukul 05.00, bangun tidur cek ponsel muncul kelegaan psikologis sesaat, sambil membayangkan nanti mau makan siang yang enak-enak, atau membayar keranjang belanja online yang sempat tertunda. Pukul 08.00, setengah gaji hilang sudah terpotong tagihan KPR.
Lanjut pukul 09.00, tagihan-tagihan lain mengantre untuk segera dibayarkan. Pukul 10.00, saldo gajian tinggal 20%. Pukul 12.00, rencana makan siang enak hanya tinggal angan-angan. Yang perlu dilakukan sekarang adalah cari-cari celah sambil berpikir keras, bagaimana caranya biar bisa bertahan sampai bertemu hari gajian berikutnya.
Fenomena gaji cuma lewat kerap membayangi kelas menengah rentan di Jakarta. Fenomena gaji cuma lewat atau salary slip syndrome adalah kondisi di mana penghasilan bulanan habis dalam sekejap untuk membayar tagihan dan pos pengeluaran tanpa ada sisa untuk ditabung.
Bukan hanya dongengan di media sosial, gejala ini benar-benar terjadi di masyarakat. Kondisi ini umumnya dipicu oleh kombinasi kesalahan pengelolaan keuangan dan tekanan inflasi yang tidak diimbangi kenaikan pendapatan.
Fenomena ini dirasakan Ruby, seorang Finance Staff di sebuah kantor di Jakarta. Saat ditemui tim Wartawan, dirinya mengaku tidak sampai seminggu usai hari gajian, kondisi keuangan sudah kritis.
“Karena ada tagihan, soalnya lagi ada beberapa cicilan utang sebelumnya. Tapi ya faktor utamanya memang karena (harga) kebutuhan aja yang udah tinggi,” kata Ruby.
Ruby menceritakan, baginya hari gajian hanyalah kesenangan sesaat, mengingat banyak pos pengeluaran yang harus dibayarnya meski saat ini dia masih jomblo, alias belum berumah tangga.
“Langsung kepotong kuota bulanan, tagihan kredit, dan lain-lain. Itu belum termasuk buat ngasih ke orangtua atau saudara,” katanya.
Ruby juga mengaku telah melakukan mekanisme penyisihan gaji sebagai langkah solusi jika ada kebutuhan darurat yang harus dibayar atau dipenuhi. Namun mekanisme itu hanyalah sebuah ilusi, pasalnya, tidak ada yang benar-benar bisa disisihkan, karena berapa pun yang disimpan tetap terpakai bahkan sebelum akhir bulan.
“Awalnya nyisihin 20%, tapi ujung-ujungnya kepakai lagi. Jadi kalau sekarang sih tabungan nol,” katanya pasrah.
Ruby masih terbilang beruntung jika dibandingkan dengan pekerja lain. Tinggal masih di rumah orangtua dengan ongkos transport hanya Rp 14.000 pulang pergi kantor, membuatnya tidak banyak pengeluaran untuk dua pos yang sebenarnya menjadi penggerus gaji kelas pekerja Jakarta itu. Meski ‘menang’ dalam dua hal, yakni pos perumahan dan ongkos transport, Ruby mengaku bekerja di kawasan elite Jakarta membuat pengeluaran makan menjadi membengkak. Dirinya mengaku bisa menghabiskan uang Rp 100 ribu untuk makan dalam sehari.
“Paling maksimal cuma bisa bawa nasi dari rumah. Memang lauknya yang mahal. Rp 30.000 tuh baru buat satu lauk satu kali makan,” ungkapnya.
Ruby mengaku biasa hidup saat ini terasa lebih mahal. Untuk makan saja misalnya, makanan yang sehat seperti sayur dan buah-buahan, harganya menjadi lebih mahal. Gara-gara harga makanan yang tak terjangkau itu, dirinya mengaku saat ini jarang makan sayuran.
“Jujur iya, jadi jarang banget makan sayur. Mau beli di warteg juga harus milih-milih banget karena perut aku sensitive,” katanya.
Untuk keluar sesaat dari tekanan, Ruby mengaku menggunakan mekanisme pertahanan terakhir dengan mengandalkan ‘Paylater’ atau pinjam dulu ke teman dan saudara. Itu menjadi jalan keluar terakhir, yang sebenarnya menjadi gambaran begitu rapuhnya kelas menengah Indonesia.






















































