Update Gempa Venezuela: Korban Tewas 1.450 Jiwa, Harapan Mulai Menipis

oleh -5 Dilihat

CARACAS – Jumlah korban tewas akibat gempa yang mengguncang Venezuela telah melonjak hingga 1.450 jiwa. Gempa bermagnitudo 7,2 dan 7,5 terseut terjadi pada Rabu (24/6/2026).

Di tengah duka yang mendalam, harapan untuk menemukan korban selamat di balik puing-puing bangunan dilaporkan kian menipis seiring berjalannya waktu.

Para pakar kebencanaan menyebutkan, periode emas atau jendela waktu terbaik untuk menemukan korban dalam keadaan hidup adalah 72 jam pertama setelah bencana.

Mengingat batas waktu tersebut telah terlampaui, fokus operasi kini berangsur-angsur bergeser dari misi penyelamatan menjadi misi pencarian dan pemulihan jenazah.

Kendati demikian, mukjizat masih terjadi di lapangan, sebagaimana dilansir AFP.

Pada Minggu (28/6/2026), tim penyelamat gabungan dari Perancis dan Amerika Serikat (AS) berhasil mengevakuasi seorang pria beserta anak mudanya dalam kondisi hidup.

Keduanya ditemukan terperangkap di bawah runtuhan puing di kota pesisir Caraballeda, sekitar 40 kilometer sebelah utara ibu kota Caracas, setelah bertahan selama empat hari sejak gempa pertama mengguncang.

Wartawan AFP di lokasi melaporkan, ayah dan anak tersebut diturunkan dari gundukan puing dengan menggunakan tandu.

Keduanya tampak sangat kelelahan dan berada dalam kondisi syok yang berat setelah berhasil diselamatkan dari kota yang kini hancur lebur tersebut.

Presiden Majelis Nasional Venezuela, Jorge Rodriguez, mengonfirmasi pada Minggu bahwa selain 1.450 korban meninggal dunia, tercatat sedikitnya 3.150 orang mengalami luka-luka.

Dampak kerusakan infrastruktur juga sangat masif, di mana sekitar 774 bangunan rusak parah, termasuk 189 bangunan yang sepenuhnya rata dengan tanah.

Sementara itu, puluhan ribu orang masih dinyatakan hilang.

Di kota pesisir La Guaira yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah, keputusasaan warga lokal begitu terasa.

Banyak dari mereka terpaksa menggali puing-puing apartemen yang runtuh dengan tangan kosong demi mencari keluarga mereka.

“Kami tidak memiliki bantuan memadai untuk mengeluarkan keluarga kami, kami tidak bisa melakukannya sendirian. Mereka terkubur di sana; kami tahu mereka sudah meninggal, tetapi di sinilah kami sekarang,” ujar Hector Aguilera, warga La Guaira yang kehilangan empat anggota keluarganya.

Dua kerabatnya yang lain beruntung dapat diselamatkan.

“Kami tidak punya harapan lagi, yang tersisa hanyalah kenangan,” keluhnya pilu.

Pemerintah Venezuela merespons situasi darurat ini dengan membatasi akses ke wilayah negara bagian La Guaira, mengerahkan personel militer, serta mewajibkan para relawan kemanusiaan untuk memiliki surat izin masuk demi keamanan.

Namun, kebijakan birokrasi ini memicu gelombang kemarahan dari warga yang mengantre di Caracas demi bisa membantu proses evakuasi.

“Anda memerlukan izin hanya untuk menyelamatkan nyawa orang lain, bayangkan saja,” protes Carlos Itriago (27), salah seorang warga yang kecewa akibat terhambat birokrasi penanganan logistik itu.

Di sudut lain ibu kota, seperti di lingkungan San Bernardino, para relawan terus berjuang memecah beton menggunakan bor dan membentuk barisan manusia untuk memindahkan puing secara manual

Sementara di distrik Chacao, layar-layar elektronik iklan digital dialihfungsikan untuk menampilkan wajah-wajah warga yang hilang guna mempercepat proses pencarian.

Dampak ekonomi dan bantuan internasional

Berdasarkan data populasi dan tingkat kerusakan, Badan Migrasi PBB memperkirakan hingga 6,76 juta orang terdampak langsung oleh bencana ini.

Mereka membutuhkan bantuan darurat berupa tempat berlindung, air bersih, sanitasi, serta layanan kesehatan.

Gempa bumi terburuk di Venezuela dalam satu abad terakhir ini terjadi saat negara kaya minyak tersebut tengah didera keruntuhan ekonomi.

Kondisi tersebut terjadi selama lebih dari satu dekade yang telah melumpuhkan fasilitas rumah sakit dan layanan publik.

PBB memperkirakan total kerusakan fisik akibat bencana ini mencapai 6,7 miliar dolar AS atau setara dengan enam persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Venezuela.

Menghadapi kecaman publik atas lambatnya respons pejabat lokal, Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasihnya atas gelombang solidaritas internasional yang terus berdatangan.

Hingga saat ini, sebanyak 24 negara telah mengirimkan total 521 ton pasokan logistik, 86 unit anjing pelacak, serta lebih dari 2.700 personel pencarian dan penyelamatan (SAR).

Meski bantuan logistik terus mengalir, para petugas di lapangan menyadari tantangan berat terkait kondisi psikologis warga dan realitas di lapangan yang kian memburuk karena waktu penyelamatan makin habis.

“Pada titik ini, kemungkinan besar mereka sudah menjadi mayat. Namun berkat Tuhan, mungkin kita masih bisa menemukan orang yang masih hidup,” ujar seorang petugas penyelamat asal El Salvador yang menolak disebutkan namanya.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet