Jakarta – Konsultan properti CBRE Indonesia mengungkapkan jumlah ruang kantor kosong di Jakarta saat ini sekitar 2,6 juta meter persegi. Sementara itu, konsultan properti Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia pada Oktober 2025 mengatakan jumlahnya mencapai 3 juta meter persegi. Jumlah ruang kosong tersebut disebut terbanyak di Asia-Pasific.
Menurut Co-Head of Office Services CBRE Indonesia Albert DW perbedaan jumlah ruang kantor kosong di Jakarta ini merupakan hal yang wajar karena masing-masing perusahaan memiliki perhitungannya sendiri. Namun, angka tersebut bukan suatu pertanda buruk. Justru sektor perkantoran 5 tahun terakhir setelah pandemi Covid-19 telah menunjukkan pertumbuhan yang baik.
Jumlah kantor kosong 2,6 juta meter persegi merupakan kumulatif dari seluruh gedung perkantoran di Jakarta. Tidak ada gedung kantor yang benar-benar kosong 100 persen. Rata-rata okupansinya sudah menyentuh 75 persen di area Central Business District (CBD) dan 73 persen di non-CBD. Bahkan di gedung grade A dan premium grade tingkat keterisiannya tembus 90 persen.
“Kalau saya melihatnya, nggak mengancam okupansi yang di 75 persen sampai 73 persen. Nggak. Kita malah melihatnya bahwa ini kan berangsur-angsur ya. Jadi kalau misalnya kita lihat zaman yang Covid itu, memang okupansinya cukup rendah, banyak orang downsize dan yang lain-lain. Justru sekarang itu lagi recovery,” tambah Co-Head of Office Services CBRE Indonesia Judy Sinurat kepada detikcom pada Kamis (26/3/2026).
Bahkan adanya perang antara AS-Israel vs Iran yang tengah panas hingga kebijakan WFH yang hendak diterapkan pemerintah untuk menghemat BBM pun tidak akan berpengaruh besar pada penurunan tingkat keterisian ruang kantor di Jakarta.
“Tapi kalau kita melihatnya secara direct impact sih nggak. Karena kebutuhan. Kalau misalnya ada terjadi posisi geopolitik yang cukup panas dan segala macam, tidak serta-merta mengubah kebutuhan perkantoran. Especially untuk kantor-kantor yang sudah established lama di Indonesia. Mereka tetap berkantor di sini. Mereka tetap sesuai dengan kebutuhannya. Apakah mereka mau ekspansi untuk downsize dan lain-lain. Kalau saya melihatnya lebih dari sisi internal kebutuhan bisnisnya mereka,” jelasnya.
Terpisah, Head of Research & Consultancy PT Leads Property Service Indonesia Martin Hutapea mengungkapkan tingginya ruang kosong perkantoran di Jakarta disebabkan oleh masifnya pembangunan ruang kantor 10 tahun yang lalu, yakni sekitar 2015-2016. Ruang kantor baru tersebut dibuat tanpa memperhatikan permintaan pasar. Alhasil yang semula ruang kantor baru pasti bisa terisi 90 persen setelah selesai dibangun, kini bahkan ada yang hanya bisa 20 persen terisi, jauh dari harapan.
“3 juta meter persegi (ruang kantor kosong) sekarang ini karena memang 10 tahun terakhir yang namanya pengembangan itu terlalu masif, sangat masif sekali dan tidak diimbangi dengan permintaan. Nah, kemudian di 2020 ditambah lagi dengan tren WFH,” ungkapnya.
Martin menyampaikan sejak 2024 hingga 2028 ke depan, jumlah ruang kantor baru di Jakarta sudah jauh berkurang. Bahkan pada beberapa daerah tidak ada ruang kantor baru. Hal ini dikarenakan jumlahnya yang sudah membludak. Diharapkan hingga 2028, ada proyek perkantoran baru selesai dibangun, 3 juta meter persegi ruang kantor kosong tersebut bisa terserap.
“Hingga 2028 Itu nggak ada yang baru istilahnya. Kalau ada yang baru dikit banget. Kita bisa bilang bahwa nggak ada yang baru. Itu berpotensi hunian (okupansi ruang kantor) naiknya udah lumayan banget,” terangnya.

Mar.




















































