,

Sahala Hasoloan Sijabat : MEMBERANGKATKAN PARA SUHADA ( Suatu doa dan restu yang menjadi modal dasar para Caleg Insan Sijabat)

oleh -2496 Dilihat
oleh

Sepasang bola mata dari balik jendela, datang dari Jakarta menuju medan perwira .
Kagum ku melihatnya sinar nan perwira rela, pergilah pahlawanku dengan doa restu… dst.

Di atas adalah lirik lagu ‘Hampir malam di Jogja’ yang menggambarkarkan kekaguman seorang putri bertatap muka dengan seorang Pemuda dengan seragam Pahlawan di dalam gerbong Kereta Malam. Sang putri sungguh merasa nyaman dan aman ditatap oleh sang Pahlawan. Ketakutan, kekhawatiran, ketidakpastian seakan pupus, lenyap, hilang seketika diganti dengan kenyamanan dan kedamaian. Dengan hanya tatapan bola mata sang Pahlawan segalanya berganti menjadi tenang di hati dengan kesejukan sanubari yang menenteramkan. Sedemikian besar harapan dan kepercayaan sang putri dan dengan keyakinan penuh dan dengan optimisme yang bulat sang putri percaya bahwa melalui kehadiran sang Pahlawan segala hal yang menakutkan, mengkhawatirkan, mengancam akan berganti dengan keamanan, kenyamanan, ketenteraman, kesejukan dan kedamaian.

Demikian kurang lebih sama di saat ini. Manakala caleg untuk duduk di Tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota memperkenalkan dan mengkampanyekan diri dengan berbagai cara maka kita yang bersikap optimis, yang meyakini hari ini harus lebih baik dari kemarin dan hari esok harus pula lebih baik dari hari ini menaruh harapan kepada mereka yang setelah melalui perkenalan dan mungkin dengan mempelajari lebih dalam track record sang Caleg kita telah menjatuhkan pilihan untuk dicoblos pada Pemilu Rabu, 14 Februari 2024.
Ada kecenderungan pilihan kita akan jatuh, yang jika didasarkan kepada penilaian objektip terhadap pengalaman dan pengenalan sang Caleg , kepada mereka yang telah lama berprestasi yang performanya sesuai dengan harapan kita. Hal demikian tentulah tidak dipersalahkan. Namun bukan hanya itu. Kita juga perlu memberi kesempatan kepada new comer yang mungkin kita kenal melalui kekerabatan, satu darah, satu kampung, sepenanggungan, satu akidah dan lain-lain. Kita dapat menilainya dengan apa hal baik yang pernah dia lakukan untuk kemaslahatan kerabatnya, satu ‘mudar’nya, kampungnya dan sepenanggungannya. Bahkan cara ini jauh lebih objektip karena kita sendiri langsung dan instant dapat mengetahuinya.

Sekarang mari menimbang rasa, mengevaluasi makna, melirik lebih jauh untuk memutuskan pilihan ‘marhite mudar’, berdasarkan darah yaitu keturunan dan atau parmargaon. Obektipkah menilai dengan cara itu? Nanti dulu…mungkin bisa jadi jawabannya kurang objektip. Tetapi jangan lupa. Terlalu banyak hal menilai di kehidupan ini tidak semata kepada objektifitas. Hal yang subjektip juga sering menjadi faktor penentu sepanjang sang caleg kita tahu dan kenal mempunyai trac record yang mumpuni, mau berjuang, rela berkorban, suka menolong, cinta berkumpul, tawaqal bertuhan, bertoleransi tinggi, suka memahami dan lain hal baik lainnya.
Pencerahan ini perlu kita miliki bersama karena pada Pilkada tahun ini cukup lumayan caleg dari insan Sijabat, apakah sebagai Anak, Boru/Pamoruan, Bere atau Ibebere yang mencalonkan diri dari berbagai Partai yang lolos mengikuti Pemilu. Sebut saja nama mereka (namun tidak terbatas ) : Wilson Sijabat di Bandung, Histony Sijabat dan Benhard Purba di Simalungun, Wandi Sijabat di Subussalam, Bobby Rizki Berutu di Aceh Singkil, Rayan AP Sijabat di Rokan Hilir, Farale Sijabat di Bukit Tinggi, Elfin Sijabat dan Hoko JP Haloho di Deli Serdang, Rosinta Sitanggang di Samosir, Amantua Sijabat dari Tanjung Balai (mohon maaf, belum semua caleg insan Sijabat kami peroleh).
Jika sepakat dengan pencerahan ini saya ajak kita semua insan Sijabat di alam Semesta, di tempat delapan penjuru angin bersatu padu dan berbulat tekad mendukung mereka, yakni caleg di berbagai tempat dari insan Sijabat.
Lupakan dahulu peristiwa pra Pemilu yang untuk berbagai pihak dan kalangan teriris hati karena ketidakadilan, kesemena-menaan, kearoganan demi menggapai kekuasaan yang dipertontonkan tanpa beretika dan tanpa bermoral seperti “tak gendong kemana-mana” oleh sang Paman kepada kemenakannya, membangun dinasti kekuasaan dengan kuasa yang sedang dimiliki dan memakai fasilitas yang diperoleh dari rakyat demi mencapai Pemilu satu putaran dan lain sebagainya yang jika diuraikan satu persatu akan membuat tulisan ini terlalu panjang (padahal, bukan ke hal itu inti dan tujuan tulisan ini). Dengan kebulatan tekad dan semangat kita mendukung, inilah yang dapat diberikan sebagai modal mereka para caleg insan Sijabat, yaitu modal moril dan etika yang sungguh tidak ternilai tetapi sangat dibutuhkan yakni doa dan restu tulus. Tidak juga kita lupa untuk menitip pesan dan harapan kepada mereka.

Kepada para Suhada, para pejuang, para Pahlawan kebanggaan kami, berangkatlah dengan doa dan restu tulus kami. Kami tidak dapat memodalimu dengan bantuan materi.

Berjuanglah dengan gigih, tulus, Ikhlas dan tawaqal untuk menggapai kebaikan dan Kebajikan, untuk memenangkan keadilan dan kemaslahatan, untuk mencapai kemakmuran dan kecerahan, untuk mendulang keilmuan dan pengetahuan, untuk menoreh dengan tinta emas legacy dan peninggalan tak terlupakan. Bagi kami engkaulah sepasang bola mata yang menyejukkan dan menentramkan di kereta malam sang putri dengan semula berketidak pastian tetapi dengan ujungnya beroleh keteduhan.

PPTS

Pergilah Pahlawanku ke medan juang berpantang menyerah. Sekali kita mendayung surut kita berpantang mundur. Sekali layar terbuka tabu kita berbalik arah.
Jadikan moral dan etika menjadi ketopongmu. Jadikan kebenaran dan kejujuran menjadi baju jirahmu.

Itulah doa penggembalaan, pemberangkatan hakiki kami untukmu.

Dan sayup dikeneningan malam nan sahdu… kita mendengar sebuah tembang Tapanuli yang merdu, nyanyian syukur dengan sepenggalan lirik: dijalo do, dijalo do tangiangki amang … angur do goarmi anakonhu, songon bunga ????bunga i na husus i …

Semoga.

Tulisan : Sahala Hasoloan Sijabat – Ketua Dewan Pembina PPTS ( Punguan Pomparan Toga Sijabat )

Sahala H Sijabat