Cerita Dustin Bernadus, Lektor Tunanetra dalam Misa Agung Paus Fransiskus di GBK

oleh -4278 Dilihat

JAKARTA – “Jujur, saya tidak pernah berpikir bermimpi akan menjadi salah satu petugas liturgi di GBK (Gelora Bung Karno) bersama Bapa Sri Paus Fransiskus”.

Begitu kata seorang penyandang tunanetra bernama Dustin Bernadus (22) ketika ditunjuk sebagai lektor disabilitas dalam perhelatan Misa Agung bersama Paus Fransiskus di Stadion Utama GBK (SUGBK), Jakarta Pusat, Kamis (5/9/2024).

Semua bermula saat Dustin yang bertugas sebagai lektor bersama tim koor atau paduan suara Gereja Katolik Santo Alfonsus Rodriguez, Pademangan, Jakarta Utara, mengisi acara perayaan 100 tahun Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pada 15 Mei 2024.

Dia memberikan pelayanan sebagai lektor di depan seluruh uskup di Indonesia.

Rupanya, pelayanannya ini meninggalkan kesan mendalam bagi romo hingga uskup yang hadir dalam kesempatan tersebut.

Di lain waktu, ponsel Dustin berdering dari salah satu guru koor Gereja Katolik Santo Alfonsus Rodriguez. Dalam perbincangannya, guru koor Dustin diminta tolong oleh salah satu romo KWI untuk menghubunginya.

“(Guru koor ditanya oleh romo KWI), ‘lektor yang waktu 15 Mei itu siapa?’, ‘oh, Dustin’. Diminta tolonglah. Saya ditelepon siang-siang. Saya ditanya, ‘kamu mau enggak jadi petugas lektor di GBK untuk Misa Akbar bersama Bapa Paus pada 5 September?’,” ujar Dustin, ditemui wartawan, Jumat (6/9/2024).

Mendengar pertanyaan itu, ia terkejut. Perasaannya seketika berkecamuk. Dengan menggebu-gebu, Dustin menerima tawaran tersebut.

Dengan sigap, dia menyerahkan semua berkas yang diperlukan kepada KWI.

Sempat stres
Juli 2024, Dustin baru menerima materi dari KWI untuk Misa Akbar bersama Paus Fransiskus. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, dia langsung berlatih secara mandiri di rumahnya.

“Saya cuma latihan di rumah saja. Latihan di luar dua kali, di KWI pada 16 Agustus dan gladi resik GBK, 4 September. Sisanya di rumah, secara mandiri,” ungkap Dustin.

Selama proses pelatihannya ini, Dustin mengolah vokal, artikulasi, dan intonasi. Dia mencoba masuk ke dalam cerita, merasakan menjadi wakil Tuhan untuk menyampaikan pesan-Nya kepada jemaat.

Kendati demikian, Dustin kerap merasa stres. Bukan karena menjadi beban, tetapi dia tidak ingin gagal untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada puluhan ribu jemaat Katolik di GBK dan jatuh umat yang akan menyaksikan melalui siaran televisi.

“Ini jujur ya, menjelang hari H. Saya betul-betul stres. Jujur, stres banget. Karena, itu saya terdoktrin dengan, ‘wow, yang menyaksikan saya ini banyak lho. Saya mesti berikan yang terbaik’, ‘aduh, saya takut salah baca, takut artikulasi enggak jelas, intonasi asal’, gitu,” ungkap Dustin.

Beberapa jam sebelum naik ke altar, jantung Dustin berdebar hebat. Rasa khawatir menghantui pikirannya.

Namun demikian, dia menyadari, kekhawatiran itu justru akan mengantarkannya kepada kegagalan pelayanan di depan pemimpin Takhta Suci Vatikan. Dustin berupaya melepas rasa khawatir, stres, dan pikiran-pikiran buruknya.

“Caranya, ya saya beranggapan, saya sedang pelayanan di gereja saya, di hadapan ratusan orang, bukan puluhan ribu, atau jutaan jemaat. Maka, saya harus menampilkan terbaik,” ucap Dustin.

“Jadi, enggak usah berpikir, yang menonton saya itu puluhan ribu orang, bahkan jutaan orang. Saya hanya berpikir, saya sedang berada di gereja saya, sedang pelayanan, itu saja, dan relaks,” tambah dia.

Terlepas dari itu, dia menyerahkan diri kepada Tuhan. Pasalnya, setiap manusia tidak pernah luput dari kesalahan. Dia hanya berupaya memberikan pelayanan yang terbaik kepada Tuhan.

Hasilnya, pelayanannya menjadi lektor membuat jemaat terkagum-kagum dengannya.

“Jangan banggakan saya” Setelah pelayanannya ini pada Misa Agung di GBK bersama Paus Fransiskus, Dustin kerap mendapatkan pujian. Mulai keluarga, teman, bahkan orang yang tidak dia kenal sama sekali.

Hanya saja, Dustin tidak ingin orang lain bangga terhadap dirinya. Dia masih merasa jauh dari kata sempurna. Terlebih, kesempurnaan hanya milik Tuhan.

“Saya cuma mau bilang, please, jangan banggakan saya. Sekali lagi saya tekankan, jangan banggakan saya. Saya ini hanya alat yang dipakai Tuhan. Saya ini enggak bisa apa-apa. Saya ini masih banyak kurangnya,” ujar Dustin. “Saya cuma mau bilang, banggakan Tuhan. Tanpa campur tangan Tuhan, saya tidak bisa seperti ini. Tidak bisa di titik ini. Dan tidak bisa membaca selancar itu. Jadi pesan saya, banggakan Tuhan. Jangan banggakan manusia,” pungkas dia.


Mar.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet