Risiko Kredit Macet KPR Meningkat, Nasabah Makin Sulit Bayar Cicilan

oleh -670 Dilihat

JAKARTA – Kemampuan nasabah membayar cicilan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) terus menurun. Rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) tercatat makin tinggi.

Berdasarkan data Bank Indonesia, NPL KPR menyentuh 2,99 persen pada Februari 2025. Angka ini naik dari bulan sebelumnya yang berada di level 2,88 persen. Ini menjadi rasio tertinggi dalam empat tahun terakhir. Pada 2021, NPL KPR tercatat 2,94 persen.

Kenaikan NPL juga terjadi di sejumlah bank.

Di BCA, EVP Consumer Loan BCA Welly Yandoko menyebut ada tren peningkatan NPL secara year to date pada Maret 2025.

“Saat ini di BCA, NPL KPR memang ada tren peningkatan, namun masih terjaga dengan baik,” ujarnya kepada Wartawan, Minggu (20/4/2025).

NPL KPR BCA tercatat 1,54 persen per Maret, naik dari 1,26 persen pada Desember 2024.

Welly melihat masih ada potensi kenaikan NPL akibat tekanan global yang berdampak ke dalam negeri. Namun, BCA tetap menargetkan agar NPL bisa terjaga.

BCA menerapkan strategi seperti seleksi ketat saat akuisisi nasabah, termasuk analisis kemampuan bayar. Bank juga memperkuat sistem Know Your Customer dan rutin memantau kualitas kredit secara ketat.

Langkah ini dinilai penting untuk menyusun strategi penanganan yang cepat dan tepat.

Direktur Manajemen Risiko BTN Setiyo Wibowo mencatat tren risiko kredit meningkat di sektor konsumer dan UMKM. NPL KPR BTN saat ini berada di level 2,9 persen.

“Di BTN memang ada kecenderungan meningkat yang telah kami kaji disebabkan beberapa hal, seperti adanya penurunan kemampuan debitur membayar terutama debitur ex restrukturisasi pada saat mereka harus membayar angsuran secara normal,” ungkap Setiyo.

Kemampuan bayar nasabah juga melemah akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) atau penurunan pendapatan.

Meski begitu, BTN tetap membidik pertumbuhan KPR yang sehat sebesar 10 persen dengan target NPL di bawah 2,5 persen.

Bank mendorong KPR rumah pertama, baik subsidi maupun non-subsidi.

“Karena rumah pertama umumnya risikonya lebih rendah,” tambahnya.

BTN juga memperluas pasar ke segmen menengah atas yang dinilai lebih tahan terhadap gejolak ekonomi makro. Selain itu, BTN terus memperbarui proses bisnis dengan teknologi dan analisis data.

Di Bank Mandiri, tren kredit macet KPR justru menurun.

VP Mortgage Product Development Bank Mandiri Ruby Indra menyebut NPL KPR tetap terjaga. Ia menilai perbaikan ini sejalan dengan strategi bank yang fokus ke bisnis ekosistem wholesale.

“Rasio NPL-nya dari 2,8 persen-an di Januari menjadi 2,7 persen-an di Februari dan tren yang terus menurun seiring dengan perbaikan kualitas akibat fokus ke pasar yang sehat,” katanya.

Ruby memperkirakan rasio NPL KPR akan stabil di kisaran 2,6 persen hingga 2,7 persen hingga akhir 2025.

“Kami akan tetap fokus ke segmen ekosistem wholesale dan nasabah eksisting Bank Mandiri,” imbuhnya.

Mar.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet