Bagaimana Proses Pemilihan Paus Baru ?

oleh -2657 Dilihat
oleh

Vatikan , Para kardinal sedunia akan memilih penerus paus di Vatikan usai Paus Fransiskus wafat. Pemilihan paus penerus digelar dalam pertemuan konklaf yang dijadwalkan pada 7 Mei 2025. Lalu bagaimana proses pemilihan paus baru ?

Penerus Paus Fransiskus ditentukan dalam pertemuan para kardinal sedunia di Vatikan, atau yang disebut dengan pertemuan konklaf. Konklaf berasal dari kata conclave yang dalam bahasa Latin berarti “ruangan yang bisa dikunci.”
Pemilihan paus dilakukan oleh para kardinal sedunia yang belum berusia 80 tahun, di dalam lokasi pertemuan yang ditutup rapat. Ruangan yang digunakan para kardinal untuk memilih paus baru adalah Kapel Sistina di Vatikan.
Proses pemilihan ditandai dengan warna asap di cerobong Kapel Sistina. Selama belum ada paus baru terpilih, surat suara yang sudah ditulis nama calon paus dari para kardinal akan dibakar. Dengan ditambahi bahan tertentu, akan menghasilkan asap hitam atau abu-abu gelap di cerobong Kapel Sistina.

Sebaliknya, asap putih yang dihasilkan dari bahan tertentu akan muncul di cerobong asap Kapel Sistina apabila ada paus baru terpilih.

Jadwal Konklaf Pemilihan Paus Baru 7 Mei, Berapa Lama Prosesnya ?

Pemilihan paus baru dalam konklaf yang akan dilaksanakan di Vatikan tinggal menghitung hari. Pada Rabu (7/5/2025), ratusan kardinal dari seluruh dunia yang memenuhi syarat akan berkumpul di Kapel Sistina untuk memilih pemimpin Gereja Katolik Roma yang baru.
Pemilihan ini melibatkan sekitar 133 kardinal, yang masing-masing berusia di bawah 80 tahun. Dalam konklaf, para kardinal akan memilih paus baru melalui mekanisme pemungutan suara.
Namun, berapa lama konklaf ini akan berlangsung ?

Menurut Time, tidak ada batasan waktu untuk konklaf. Proses ini akan terus berlangsung hingga seorang paus terpilih. Seseorang dikatakan terpilih jika memperoleh dua pertiga suara dari kardinal yang hadir.

Jika jumlah pemilih tidak dapat dibagi tiga, pemungutan suara tambahan akan dilakukan, sebagaimana disampaikan oleh Vatican News.

Pada hari pertama konklaf, pemungutan suara hanya dilakukan sekali pada sore hari. Jika pada sesi pertama belum ada keputusan, pemungutan suara akan dilanjutkan pada hari berikutnya. Pada hari-hari berikutnya, dua sesi pemungutan suara dilakukan di pagi dan sore hari. Setelah penghitungan suara, surat suara akan dibakar, dan asap yang keluar dari cerobong Kapel Sistina akan memberikan petunjuk.
Asap hitam menandakan bahwa keputusan belum tercapai, sedangkan asap putih menandakan paus baru telah terpilih. Jika dalam tiga hari tidak ada keputusan, jeda satu hari akan diberikan untuk berdoa, berdiskusi bebas, serta mendengarkan nasihat spiritual dari Kardinal Proto-Diakon.
Sejarah mencatat konklaf terlama terjadi pada 1268 setelah kematian Paus Klemens IV, yang menyebabkan konklaf berlangsung selama 1.006 hari, hampir tiga tahun. Ketidaksetujuan di antara para kardinal yang terpecah karena faktor politik, agama, dan keluarga menyebabkan pemilihan paus baru mengalami stagnasi. Akhirnya, pada 1271, Paus Gregorius X terpilih dan lahirlah format konklaf yang lebih efisien.
Konklaf tersingkat tercatat pada 1503, ketika Paus Julius II terpilih hanya dalam beberapa jam, setelah aturan menunggu sepuluh hari diberlakukan. Pada abad modern, konklaf sering berlangsung lebih singkat, seperti pada pemilihan Paus Fransiskus yang memakan lima putaran suara pada 2013, atau Paus Benediktus XVI yang terpilih dalam empat putaran suara pada 2005.

nikolas sinar naibaho