Siapa Robert Prevost , Paus Leo XIV yang baru terpilih ?

oleh -2051 Dilihat
oleh

Vatikan – Robert Francis Prevost asal Amerika Serikat (AS) terpilih sebagai paus setelah konklaf hari kedua pada Kamis (8/5/2025) di Vatikan. Ia mengambil nama Paus Leo XIV, yang dipilih untuk menggambarkan arah kepemimpinan gereja di bawah jabatannya.
Terpilihnya Robert Francis Prevost yang kini berusia 69 tahun sebagai paus ke-267 mengukir sejarah baru. Hal ini karena Prevost adalah paus pertama yang berasal dari Amerika Serikat sekaligus paus kedua dari benua Amerika setelah Paus Fransiskus.

Pengumuman terpilihnya paus baru dilakukan dengan simbol asap putih yang mengepul dari cerobong Kapel Sistina. Asap tersebut menandakan bahwa para kardinal yang terdiri dari 133 anggota telah mencapai konsensus dalam memilih pemimpin baru gereja Katolik .

Bahkan sebelum namanya diumumkan dari balkon Basilika Santo Petrus, kerumunan orang di bawahnya meneriakkan “Viva il Papa!” yang berarti “Hidup Paus!”.

Robert Prevost, 69 tahun, akan menjadi penerus Santo Petrus yang ke-267 dan ia akan dikenal sebagai Leo XIV.

Dia akan menjadi orang Amerika Serikat pertama yang menduduki peran Paus, meskipun ia dianggap sebagai kardinal dari Amerika Latin karena bertahun-tahun ia habiskan sebagai misionaris di Peru, sebelum menjadi uskup agung di sana.

Anak imigran di Chicago
“Saya lahir di Amerika Serikat, tetapi kakek -nenek saya semuanya imigran, Prancis, Spanyol (…) . Saya tumbuh dalam keluarga yang sangat Katolik, kedua orang tua saya sangat berkomitmen pada paroki,” kata Prevost dalam sebuah wawancara dengan radio dan televisi Italia.

Lahir di Chicago pada 1955 dari seorang ibu Spanyol dan ayah Amerika, Prevost tumbuh di kota itu bersama kedua saudaranya, Louis Martín dan John Joseph.
Ia menghabiskan masa kecil dan remajanya sebagai mahasiswa di Seminari Menengah Agustinus di kota kelahirannya. Kemudian dia melanjutkan pendidikan di Universitas Villanova di Pennsylvania, tempat ia mengenyam pendidikan dan meraih gelar di bidang Matematika.

Pada usia 22 tahun, ia menjalani masa persiapan bagi calon anggota Ordo Santo Agustinus di Kota Saint Louis dan lulus dalam bidang Teologi.

Ia kemudian dikirim ke Roma, tempat ia belajar Hukum Kanon.

Dia ditahbiskan sebagai pastor pada 1982.

Pada tahun 1987, ia memperoleh gelar S3 dan pada tahun yang sama terpilih sebagai direktur direktur misi untuk Ordo Agustinus di Illinois, Amerika Serikat.

Pastor Mark Francis, seorang teman Prevost sejak tahun 1970-an, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Prevost memiliki komitmen khusus terhadap keadilan sosial.

“Ia selalu baik dan hangat, dan ia tetap menyuarakan akal sehat dan kepedulian praktis terhadap pekerjaan Gereja untuk kaum miskin,” kata Francis, yang menghadiri seminari bersama Prevost dan kemudian bertemu dengannya saat mereka tinggal di Roma pada 2000-an.

“Ia memiliki selera humor yang sarkastis, tetapi ia tidak mencari perhatian,” imbuh Francis.

Masa masa di Peru
Hanya satu tahun setelah pengangkatannya di Illinois, Prevost dikirim ke misi Trujillo di Peru sebagai direktur proyek pembinaan bagi para calon anggota Ordo Agustinus di Vikariat Chulucanas, Iquitos, dan Apurímac.

Dia berusia 33 tahun saat pindah ke Peru. Bertahun-tahun kemudian, ia mendapat kewarganegaraan Peru dan kini dikenang sebagai tokoh yang bekerja dengan komunitas terpinggirkan untuk membantu membangun jembatan di gereja setempat.

Jesús León Ángeles, koordinator kelompok Katolik di Chiclayo yang telah mengenal Prevost sejak 2018, mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa Prevost adalah orang yang “sangat sederhana” yang berusaha keras untuk membantu orang lain.

Leon Angeles menekankan bahwa Prevost menunjukkan perhatian khusus terhadap para migran Venezuela di Peru.

Selama bertahun-tahun di Peru, ia menjabat sebagai pastor paroki, guru seminari, prefek studi, hakim gerejawi, dan anggota dewan penasihat Keuskupan Trujillo, selain memimpin seminari Ordo Agustinus di kota itu selama satu dekade.

Namun ia kembali secara berkala ke AS untuk bertugas sebagai pastor dan prior di kota asalnya.

Relasi dengan Paus Fransiskus
Dalam kata-kata pertamanya sebagai Paus, Leo XIV memuji pendahulunya, Fransiskus.

“Kita masih mendengar di telinga kita suara Paus Fransiskus yang lemah tetapi selalu berani, yang memberkati kita,” katanya.

“Bersatu dan bergandengan tangan dengan Tuhan, mari kita maju bersama,” katanya kepada khalayak yang berkumpul di Alun-alun Santro Petrus.
Dia berkata kepada khalayak bahwa dia adalah anggota Ordo Santo Agustinus. Dia berusia 30 tahun ketika pindah ke Peru sebagai bagian dari misi Santo Agustinus atau yang juga dikenal dengan Ordo Agustinian.

Mendiang Fransiskus mengangkat Prevost sebagai Uskup Chiclayo di Peru setahun setelah menjadi Paus.

Prevost dikenal baik oleh para kardinal karena perannya sebagai prefek Dikasteri untuk Uskup di Amerika Latin yang memiliki tugas penting untuk memilih dan mengawasi para uskup.

Pada Januari 2023, Fransiskus mengangkatnya sebagai uskup agung dan dalam beberapa bulan Fransiskus mengangkatnya menjadi kardinal.

Karena 80% kardinal yang ambil bagian dalam konklaf ditunjuk oleh Fransiskus, tidaklah mengherankan bahwa seseorang seperti Prevost terpilih, meskipun ia baru ditunjuk sebagai kardinal dua tahun lalu.

Bagaimana pandangan Paus Leo ?
Ia akan dipandang sebagai tokoh yang mendukung keberlanjutan reformasi Fransiskus di Gereja Katolik.

Prevost diyakini memiliki pandangan yang sama dengan Fransiskus tentang migran, kaum miskin, dan lingkungan.

Sebagai kardinal, ia tidak segan-segan menantang pandangan Wakil Presiden AS, JD Vance.

Ia mengunggah ulang unggahan di platform media sosial X yang mengkritik deportasi seorang warga AS ke El Salvador oleh pemerintahan Trump, dan membagikan komentar kritis secara tertulis tentang wawancara TV Fox News dengan JD Vance.

“JD Vance salah: Yesus tidak meminta kita untuk memberikan peringkat terhadap kasih kita kepada orang lain,” tulis unggahan tersebut, mengulang judul dari komentar di situs web National Catholic Reporter.

Meskipun ia orang Amerika, dan akan sepenuhnya menyadari perpecahan dalam Gereja Katolik, latar belakang Amerika Latinnya juga menunjukkan keberlanjutan mengingat Paus sebelumnya berasal dari Argentina.

Vatikan menggambarkannya sebagai paus kedua dari Amerika , setelah Paus Fransiskus serta paus dari Ordo Agustinian pertama.

Selama berada di Peru, ia tidak luput dari bayang-bayang skandal pelecehan seksual yang telah mencoreng nama Gereja. Namun keuskupannya dengan tegas membantah bahwa ia terlibat dalam upaya menutup-nutupi skandal apapun.

Sebelum konklaf, juru bicara Vatikan Matteo Bruni mengatakan bahwa selama pertemuan Dewan Kardinal beberapa hari sebelum konklaf, mereka menekankan perlunya seorang paus dengan “semangat kenabian yang mampu memimpin Gereja yang tidak menutup diri tetapi tahu bagaimana membawa terang bagi dunia yang dirundung keputusasaan”.

Sebagai umat Katolik Ir Nikolas Sinar Naibaho , MBA merasa bersyukur serta turut mengucapkan Selamat atas terpilihnya Paus baru ! ” Kami mengucapkan syukur dan doa semoga kepemimpinan Bapa Suci ini membawa berkah dan damai bagi seluruh umat Katolik di seluruh dunia.” .

nikolas sinar naibaho