Jakarta – Duta Besar Indonesia untuk Kamboja Santo Darmosumarto menyatakan pihaknya telah menangani 2.585 kasus perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI) pada paruh pertama tahun 2025. Sebagian besar dari kasus itu berhubungan dengan jaringan penipuan online.
Santo menyuatakan angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan 1.265 kasus. “Yang menjadi perhatian khusus, 83 persen dari kasus-kasus ini berhubungan dengan WNI yang bekerja dengan sindikat penipuan online,” ujar Santo dalam keterangan yang diberikannya pada akun instagram @indonesiainphnompenh pada Kamis, 17 Juli 2025.
Santo mengatakan berdasarkan pengalamannya mengurus masalah perlindungan WNI di Kamboja, penyelesaian kasus penipuan online yang melibatkan WNI merupakan yang paling rumit, berbahaya, dan memakan waktu.
Dia pun meminta agar masyarakat lebih waspada dengan tawaran pekerjaan di luar negeri. Santo mengimbau masyarakat tidak mudah tergiur dengan tawaran pekerjaan yang menjanjikan gaji besar dengan persyaratan yang sederhana. “Kalau mau kerja di luar negeri, ayo lebih bijak dan lebih pandai,” kata dia.
Adapun, KBRI sebelumnya menyatakan otoritas Kamboja tengah menggelar operasi pemberantasan penipuan dalam jaringan (daring) di sejumlah wilayah di negara tersebut. Warga Negara Indonesia (WNI) turut menjadi sasaran operasi.
Santo mengatakan Kedutaan Besar RI di Phnom Penh sudah mendapatkan informasi ihwal operasi aktivitas penipuan daring oleh otoritas Kamboja. Namun hingga tulisan ini tayang Santo mengaku belum mengetahui jumlah WNI yang terjaring operasi tersebut di sejumlah wilayah Kamboja.
“KBRI akan terus berkomunikasi dengan pihak-pihak setempat guna menggali detail dan menindaklanjuti pemberitaan yang ramai di Kamboja,” kata Santo saat dihubungi Wartawan, Rabu malam, 16 Juli 2025.
Adapun berdasarkan pemberitaan media lokal Kamboja, operasi dilakukan di dua provinsi yakni Kratie dan Banteay Meanchey pada Rabu. Berdasarkan laporan Freshnewsasia.com, operasi di Provinsi Banteay Meanchey dilakukan di Kota Poipet. Kota Poipet merupakan daerah yang ditinggali cukup banyak WNI.
Selain itu operasi di Provinsi Kratie dilaporkan menjaring warga berpaspor Vietnam, Thailand, Bangladesh, Cina, Myanmar, hingga Indonesia. Hingga berita ini tayang KBRI Kamboja belum bisa memastikan jumlah WNI yang terjaring operasi.

Mar.





















































