Sunyi Nyepi Bertemu Gema Takbir di Tengah Harmoni Toleransi Bali

oleh -939 Dilihat

BALI – Fenomena perayaan hari besar dua agama kembali terlihat di Bali pada pertengahan Maret 2026. Pada 19 Maret 2026, umat Hindu akan merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948. Sementara itu, satu atau dua hari setelahnya, umat Islam akan menyambut Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Hari Raya Idulfitri yang diperkirakan jatuh pada 20 Maret 2026 berpotensi membuat malam takbiran—yang biasanya dilaksanakan satu hari sebelum Idulfitri—bertepatan dengan Hari Raya Nyepi. Takbiran merupakan tradisi yang kerap dilakukan oleh umat Islam untuk mengungkapkan rasa syukur dan kemenangan spiritual pada malam 1 Syawal.

Namun, semua orang yang berada di Bali pada Hari Raya Nyepi harus mengikuti adat istiadat setempat, tanpa memandang agama yang dianut oleh orang tersebut. Nyepi dilakukan oleh umat Hindu selama 24 jam penuh, yakni dari terbitnya matahari sampai matahari terbit kembali di esok paginya.

Saat Hari Raya Nyepi, umat Hindu melakukan Catur Brata Penyepian. Catur Brata Penyepian terdiri atas amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak menikmati hiburan dan kenikmatan), serta amati gni (tidak menyalakan api). Momen sipeng (sunyi) pada Hari Raya Nyepi digunakan oleh umat Hindu untuk mempersiapkan diri secara lahir dan batin dalam menjalani tahun yang baru.

Oleh sebab itu, muncul pertanyaan mengenai bagaimana umat Islam di Bali dapat tetap melaksanakan tradisi yang mengakar, sekaligus menghormati umat Hindu yang sedang melaksanakan Catur Brata Penyepian. Akibat waktu yang berdekatan tersebut pula, terdapat potensi dinamika di kalangan masyarakat.

Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, sebelumnya melaporkan kepada Presiden Prabowo pada Rabu (04/03/2026) bahwa pihaknya telah mengantisipasi potensi dinamika karena waktu yang berdekatan antara perayaan Nyepi dan malam takbiran. Kementerian Agama pun telah melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat Bali untuk menjaga keharmonisan antarumat beragama.

“Sudah ada kesepakatan kami dengan pemerintah setempat, dengan tokoh-tokoh masyarakat di Bali, bahwa takbir itu tidak bertentangan dengan Nyepi. Syaratnya, Nyepi berjalan, tetapi takbirnya juga berjalan. Cuma tidak pakai sound system dan dibatasi waktunya juga dari jam 6 hingga jam 9,” terang Nasaruddin di Istana Merdeka, Rabu (04/03/2026), dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara.

Nasaruddin juga menyinggung potensi perbedaan penetapan Idulfitri di Indonesia. Namun, perbedaan tersebut dinilai lazim dan kelak hasilnya akan ditentukan melalui pemantauan hilal dan sidang isbat. Perbedaan tersebut dinilai sebagai upaya membangun toleransi antarumat beragama di Indonesia, khususnya di Bali yang plural.

Mar.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet