7 Juta Penduduk Indonesia Idap Atrial Fibrilasi, Banyak Tak Sadar Gejalanya

oleh -973 Dilihat

JAKARTA – Beban penyakit kardiovaskular di Indonesia masih menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan nasional.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka kejadian serangan jantung diperkirakan nyaris menyentuh 700.000 kasus setiap tahunnya.

Di tengah tingginya ancaman tersebut, kewaspadaan terhadap gangguan irama jantung atau aritmia, khususnya jenis Atrial Fibrillation (AF), mutlak diperlukan karena sering kali tidak disadari oleh penderitanya

Ancaman komplikasi atrial fibrilasi
Kondisi AF yang dibiarkan tanpa penanganan medis dapat melipatgandakan risiko komplikasi fatal seperti gagal jantung, stroke, hingga memicu kematian jantung mendadak (sudden cardiac death).

Prevalensi AF di Indonesia saat ini berada di angka 3,2 persen, di mana pada tahun 2023 tercatat lebih dari 7 juta penduduk mengalami gangguan ritme jantung tersebut.

Merespons tingginya angka kasus ini, Siloam Hospitals TB Simatupang bersama Kementerian Kesehatan RI dan Indonesian Heart Rhythm Society (InaHRS) menggagas kampanye “Let’s Check the Beat”.

Inisiatif yang digulirkan sejak awal Maret 2026 ini bertujuan mengedukasi masyarakat sekaligus memfasilitasi deteksi dini lewat pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid., menekankan krusialnya langkah skrining tersebut.

“Atrial Fibrilasi (AF) adalah gangguan irama jantung yang sering tidak bergejala, tetapi dapat berujung pada stroke, gagal jantung, hingga kematian jantung mendadak. Karena itu, deteksi dini sangat penting,” jelas dr. Nadia dalam Press Conference World Heart Day di Siloam Hospitals TB Simatupang, Jakarta Selatan, Selasa (29/9/2026).

“Melalui kampanye Let’s Check The Beat, Siloam Hospitals TB Simatupang menyediakan pemeriksaan EKG gratis agar masyarakat dapat mengenali irama jantung dan risikonya,” tambahnya.

Ia juga mengimbau publik untuk aktif menjaga kesehatan secara holistik, mulai dari pola makan, pola tidur, hingga rutinitas olahraga.

Temuan kasus pada usia produktif Fakta di lapangan menunjukkan tingginya urgensi pemeriksaan berkala. Dari 1.412 responden berusia 15-64 tahun yang mengikuti skrining EKG hingga pertengahan September 2026, sebanyak 164 orang (11,6 persen) terindikasi mengalami aritmia.

Hospital Director Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Dewi Wiguna, M.Sc, merinci temuan medis tersebut.

“Terbanyak di rentang usia 25-44 tahun dengan presentase sebesar 51,82 persen. Meski demikian, komposisi ini tidak membuktikan bahwa kelompok usia produktif memiliki risiko lebih tinggi daripada usia lanjut,” terangnya.

Ia memastikan seluruh peserta yang terindikasi aritmia mendapatkan panduan penanganan lanjutan.

“Kami percaya langkah kecil ini bisa membantu menyehatkan Indonesia. One small step today, for a healthier heart tomorrow,” ujar dr. Dewi.

Inovasi penanganan lewat ablasi kateter

Dari sisi tata laksana medis klinis, intervensi dini merupakan kunci keselamatan. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, mengimbau pasien untuk tidak menunda prosedur medis yang dianjurkan.

“Aritmia, khususnya Atrial Fibrillation (AF), perlu dikenali dan ditangani sedini mungkin. Kebanyakan orang yang belum teredukasi mengenai penanganan aritmia cenderung menunda melakukan ablasi kateter,” paparnya.

Tindakan ini sangat disarankan untuk dilakukan pada tahun pertama pasca-diagnosis.

“Padahal melakukan ablasi pada AF dini yaitu kurang dari 1 tahun, terbukti bukan hanya memperbaiki kualitas hidup tetapi juga dapat mencegah stroke dan memperpanjang harapan hidup,” tegasnya.

Sebagai pilihan tata laksana termutakhir, rumah sakit ini telah menyediakan fasilitas ablasi kateter yang didukung teknologi canggih seperti Radiofrequency Ablation (RFA), Cryoballoon Ablation (CBA), dan Pulse Field Ablation (PFA) guna menjawab berbagai kebutuhan klinis pasien aritmia secara tepat dan aman.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet