RIP Andar Ismail, Bab Terakhir Selamat Berpisah: Seorang Pengarang Harus Tahu Kapan Mulai dan Kapan Berhenti

oleh -837 Dilihat

JAKARTA – Pdt Andar Ismail (1940-2024) telah mengakhiri pertandingan yang baik dan mencapai garis akhir.
Kabar Pdt Andar Ismail meninggal dunia beredar di media sosial, Minggu, 25 Agustus 2024 malam.
Andar Ismail adalah Pendeta Emeritus Gereja Kristen Indonesia (GKI) Samanhudi.

Tulisan tulisannya di buku Seri Selamat begitu ringan, renyah, menarik, dan jenaka.
Tak heran, tiap seri (yang selalu berisi 33 bab) bukunya dicetak berulang-ulang, karena saking larisnya.

Pdt Andar Ismail pengarang buku Seri Selamat. (BPK Gunung Mulia)

Berikut tulisan Pdt Andar Ismail berjudul Selamat Berpisah, yang dikutip Wartawan dari bab terakhir buku Selamat Berkiprah yang diterbitkan BPK Gunung Mulia (2001). Bab ini mengisahkan bagaimana perjuangannya selama puluhan tahun menulis Seri Selamat:

Bab Terakhir Selamat Berpisah: Seorang Pengarang Harus Tahu Kapan Mulai dan

Pertama, kapan mulai. Kalau membukukan pandangan pada waktu karier kita baru berumur lima atau enam tahun, pastilah buku itu bukan merupakan produk dari lapangan melainkan dari belakang meja tulis.

Sebab itu pengarang yang matang akan mengendapkan naskahnya terlebih dulu.

Setelah menyelesaikan sebuah naskah, biasanya kita jatuh cinta pada naskah itu.

Pada saat itu kita belum bersikap objektif terhadap naskah itu. Jalan keluarnya adalah mengendapkan naskah itu selama beberapa minggu sampai beberapa tahun, tergantung jenis naskah itu.

Bilamana setelah masa pengendapan itu kita masih mabuk cinta, itu menunjukkan bahwa kita belum bertumbuh.

Sebaliknya, bila kita bereaksi, “Eh, malu-maluin!”, maka itulah saat yang baik untuk membongkar tulisan kita.

Karangan yang matang ada- lah tulisan yang sudah beberapa kali dibongkar dan diendapkan.

Kesimpulannya, seorang pengarang yang tahu diri akan berhati-hati sebelum memulai.

Kebanyakan isi Seri Selamat telah diendapkan seperti tersebut di atas selama sepuluh sampai dua puluh tahun.

Dari bangku sekolah teologi saya sudah dibiasakan untuk menulis lengkap sampai titik dan koma semua khotbah dan pengantar pemahaman Alkitab.

Selama 35 tahun menjadi pendeta semua itu terkumpul dan kemudian satu demi satu ditulis ulang menjadi Seri Selamat.

Kedua, kapan berhenti. Buku ditulis untuk menjawab problematik dan kebutuhan khalayak.

Selanjutnya diperhitungkan pula minat pembaca.

Problematik, kebutuhan dan minat perlu selalu dipantau. Indikatornya adalah angka tiras: berapa ribu eksemplar untuk satu kali cetak dan berapa lama masa peredarannya sampai habis terjual.

Kalau indikatornya buruk, barangkali itu pertanda khalayak mulai jenuh.

Kesimpulannya, seorang pengarang yang tahu diri akan ber- henti sebelum pembaca menjadi jenuh.

Untuk penerbitan Seri Selamat indikator tersebut dipantau dengan cermat.

Begitu masyarakat pembaca menampakkan kejenuhan, saya akan segera berhenti.

Namun ternyata sampai judul kedua belas ini gejala itu belum tampak.

Angka berbicara: belum lagi buku ini selesai ditulis, beberapa ribu eksemplar sudah dipesan.

Namun penerbitan buku juga tergantung pada beberapa faktor lain.

Salah satu di antaranya adalah kemampuan fisik pengarang.

Akhir-akhir ini saya sering menggunakan kaca pembesar karena kemampuan penglihatan semakin melemah.

Jadi, apakah penulisan Seri Selamat akan segera berakhir?

Dari sudut kebutuhan dan permintaan masyarakat pembaca, jawabnya belum.

Dari sudut persediaan naskah, juga belum; sebab masih ada ratusan naskah yang menunggu giliran untuk ditulis ulang.

Namun, dari sudut kemampuan fisik, saya harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa cepat atau lambat penulisan ini akan berakhir.

Itulah dinamika penulisan buku: sumbernya tidak ada habisnya, namun kekuatan menggali sumber itu akan habis.

Seperti kata Pengkhotbah, “Membuat banyak buku tak akan ada akhirnya, dan banyak belajar melelahkan badan” (Pkh. 12:12).

Bagaimana perasaan saya menghadapi kenyataan bila nanti harus berhenti menulis?

Entah. Saya belum bisa membayangkannya.

Namun saya kira akan ada rupa-rupa perasaan bercampur.

Perasaan kosong bahwa saya kehilangan sarana curah hati dan bersaksi.

Perasaan sedih karena hilangnya sebuah hobi.

Perasaan bersyukur bahwa Tuhan telah memakai saya sebagai sebatang pena yang menggoreskan kata demi kata.

Perasaan berterima kasih kepada semua pembaca.

Perasaan terharu mendengar kesaksian bahwa Seri Selamat telah menguatkan iman, menghibur dan menjadi berkat.

Perasaan yakin bahwa kelak akan lahir seorang pengarang lain dengan gaya yang sama sekali lain untuk meneruskan misi ini.

Cepat atau lambat Seri Selamat akan tamat.

Ada waktu untuk memulai, ada waktu untuk berhenti.

Kata Pengkhotbah, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya” (Pkh. 3:1).

Itulah hidup.

Untuk segala sesuatu ada waktunya.
Ada waktu untuk bermimpi, ada waktu untuk berkreasi.
Ada waktu untuk bersenang, ada waktu untuk bersedih.

Ada waktu untuk malang, ada waktu untuk mujur.

Ada waktu untuk sehat, ada waktu untuk sakit.

Tetapi apa pun yang terjadi, semua itu ada hikmahnya.

Pengkhotbah bersaksi, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya” (Pkh. 3:11).

Simak kesaksian itu. Segala sesuatu dibuat indah oleh Tuhan.

Kapan? Bukan sembarang waktu.

Bukan pula sepanjang waktu.

Melainkan “pada waktunya”.

Untuk segala sesuatu ada waktunya, dan pada waktunya semua itu ada maksudnya yang baik.

Bukankah ini merupakan inti dari segala kesaksian kita tentang apa yang diperbuat Tuhan?

Segala sesuatu ada hikmahnya, baik pasang maupun surut.

Baik kenyang, maupun lapar.

Baik kuat perkasa, maupun lemah lunglai.

Yang menjadi pertanyaan adalah bisakah kita mengaku dan bersaksi bahwa segala sesuatu itu dibuat indah dan berhikmah?

Sangat sulit bagi kita melihat hikmah di balik musibah.

Oleh sebab itu dalam ayat yang sama Pengkhotbah mengakui, “Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir” (Pkh. 3:11b).

Itulah sulitnya bersaksi.

Kita terpanggil bersaksi bukan hanya tentang kesembuhan, melainkan juga tentang ketidak- sembuhan, sebab ketika kita tidak bisa sembuh lagi Tuhan pun duduk di sebelah kita, menemani, tersenyum dan memegangi tangan kita.

Kita bersaksi bukan hanya tentang kebangunan, melainkan juga tentang kejatuhan, sebab ketika kita jatuh, Tuhan justru berjongkok, merangkul dan menopang tangan kita.

Iktikad itulah yang terkandung di balik seluruh isi Seri Selamat, yaitu bersaksi tentang pasang surutnya kiprah hidup yang telah dibuat indah oleh Tuhan pada waktunya.

Cepat atau lambat penulisan kesaksian ini akan tiba pada ujung jalan di mana saya akan mengucapkan selamat berpisah.

Ada waktu untuk memulai, ada waktu untuk mengakhiri.
Untuk segala sesuatu ada waktunya.

Namun untuk tiap waktu itu Tuhan akan membimbing kita, Tuhan memberi kekuatan serta penghiburan dan Tuhan memberi rahmat- Nya.
Seperti kesaksian nyanyian ini:

Kekuatan serta penghiburan
diberikan Tuhan padaku.
Tiap hari aku dibimbing-Nya;
tiap jam dihibur hatiku.
Dan sesuai dengan hikmat Tuhan

‘ku dib’rikan apa yang perlu.
Suka dan derita bergantian memperkuat imanku.

Tiap hari Tuhan besertaku,
diberi rahmat-Nya tiap jam.
Diangkat-Nya bila aku jatuh,
dihalau-Nya musuhku kejam.
Yang nama-Nya Raja Mahakuasa,
Bapa yang kekal dan abadi,
mengimbangi duka dengan suka dan menghibur yang sedih.

Kidung Jemaat No. 332***

SELAMAT JALAN OOM ANDAR SAMPAI KITA BERJUMPA NANTI.

Margriet.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet