Melihat Bandara Paling Berbahaya di Dunia, Hanya 50 Pilot yang Bisa Mendarat

oleh -756 Dilihat

BHUTAN, 23 September 2024, 16:30 WIB – Bandara Internasional Paro (PBH), Bhutan kerap dianggap sebagai bandara paling berbahaya di dunia. Saking sulitnya, hanya ada 50 pilot bersertifikat yang bisa menerbangkan pesawat dari atau menuju bandara Bhutan.

Diberitakan Express, Sabtu (21/9/2024), Bandara Internasional Paro terletak di Lembah Paro, sekitar 6 kilometer dari Kota Paro dan 55 km dari ibukota Bhutan, Thimphu.

Satu-satunya bandara internasional di Bhutan itu menerima predikat sebagai bandara paling berbahaya di dunia, karena landasannya yang pendek dan lokasinya yang sulit dijangkau.

Terletak di antara dua puncak gunung

Bandara ini terletak di antara dua puncak gunung setinggi 5.486 meter di atas permikaan laut (mdpl).

Kondisi terseBut menuntut para pilot memiliki keahlian teknis dan keberanian untuk mencapainya.

Bandara ini beroperasi pada ketinggian 2.235 meter, sehingga membuat penerbangan hanya diizinkan beroperasi pada siang hari.

Selain itu, Bandara Paro juga memiliki landasan pacu yang pendek. Akibatnya, pesawat jumbo tidak dapat mendarat di negara dengan populasi sekitar 800.000 penduduk tersebut.

Pilot harus mampu memutar pesawatnya pada menit-menit terakhir pendaratan untuk mendarat di landasan pacu yang sempit.

Situasi ini sering menimbulkan ketakutan bagi penumpang. Namun, mereka akan bertepuk tangan setelah pesawat mendarat dengan aman.

Kapten Chimi Dorji yang bekerja di maskapai penerbangan nasional milik negara Bhutan, Druk Air selama 25 tahun mengakui penerbangan ke Bandara Internasional Paro sebagai hal yang sulit.

“Ini memang menantang keterampilan pilot, tetapi tidak berbahaya, karena jika berbahaya, saya tidak akan menerbangkannya,”

Tuntut keterampilan khusus pilot

Dengan kondisi geografis Paro yang berada di sekitar pegunungan Bhutan, pilot harus memiliki keterampilan untuk menerbangkan pesawat.

Sebagai bandara kategori C, pilot harus mengikuti pelatihan khusus, khususnya mendarat secara manual tanpa bantuan radar.

Mereka juga wajib memahami bentangan alam di sekitar bandara agar penerbangannya tidak melenceng.

“Di Paro, Anda benar-benar perlu memiliki keterampilan lokal dan kompetensi pengetahuan lokal. Kami menyebutnya pelatihan kompetensi area atau pelatihan area atau pelatihan rute dengan terbang dari mana saja ke Paro,” ungkap Dorji.

Dorji menambahkan, bandara Paro berada lebih tinggi daripada bandara lainnya. Keadaan tersebut membuat udara lebih tipis, sehingga mengakibatkan pesawat bisa terbang lebih cepat.

Selain itu, cuaca di Paro juga tidak menentu. Penumpang dan awak pesawat harus terbang sebelum tengah hari ke Paro demi keselamatan mereka.

Sebab, kondisi angin lebih kencang dan suhu meningkat setelah tengah hari. Daratan juga menjadi basah pada sore hari.

Penerbangan dari Paro juga dilakukan pagi hari karena tidak ada radar untuk terbang malam hari.

Hal lain yang menjadi rintangan dalam penerbangan di Paro adalah medan pegunungan yang mengelilingi bandara.
Pilot hanya bisa melihat landasan pacu yang diapit dua gunung dari udara saat akan mendarat.

Kondisi-kondisi tersebut membuat pelatihan pilot diperlukan bagi mereka yang bertugas di Bandara Internasional Paro.

Tak hanya paham cara menerbangkan pesawat, mereka juga harus tahu waktu larangan terbang dan bisa memutuskan waktu lepas landas yang aman.

Hanya dua maskapai dan 50 pilot

Dilansir dari Simple Flying (31/5/2024), Bandara Internasional Paro awalnya dibangun akhir 1960-an sebagai landasan udara untuk operasi helikopter siaga milik Angkatan Bersenjata India atas nama Pemerintah Kerajaan Bhutan.

Maskapai penerbangan pertama negara itu, Drukair berdiri pada 1981 dan mulai beroperasi dua tahun kemudian.

Pada 1984, bandara tersebut meresmikan terminal penumpang khusus pertamanya. Ladasan pacu lalu dibangun selama dekade selanjutnya.

Tercatat, hanya ada 50 pilot berlisensi yang terbang di sana. Namun, pelatihan pilot terus dilakukan untuk menambah jumlah pilot di Bhutan.

Selain itu, ada dua maskapai yang beroperasi ke Bandara Internasional Paro, yakni Druk Air dan Bhutan Airlines. Keduanya sama-sama membuka penerbangan domestik dan internasinal.

Selain pilot yang perlu mempersiapkan diri sebelum terbang dari atau menuju Bandara Paro, para penumpang juga perlu lebih cermat.

Jika penerbangan dilakukan saat musim hujan pada Juni dan Agustus, akomodasi khusus mungkin perlu disiapkan.

Sebab dalam periode waktu tersebut, Paro sering dilanda badai petir disertai hujan es.

Mar.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet