Jakarta – Pakar Etika Politik Dr. Haryatmoko, S.J berpendapat persoalan etika politik justru bukan hanya tahu apa normanya, tetapi bagaimana menjembatani antara tindakan dan perbuatan.
Ia pun mencontohkan momen Gubernur Ahok kala itu membuat sistem e-budgeting.
“Salah satu contoh, e-budgeting itu adalah modalitas yang dilakukan ahok waktu menjadi gubernur itu, ada e-budgeting sehingga orang bisa, memang masih ada korupsi, tetapi minimal orang bisa melacak dengan cara itu,” jelas Pakar Etika Politik Dr. Haryatmoko, S.J .
“Jadi sebenarnya persepsi soal matahari kembar dalam kepemimpinan nasional ini bisa dihentikan kalau paham etik?” tanya Rosianna ke Haryatmoko.
“Ya, dengan cara itu sebetulnya lalu kita akan mengatakan, kita harus tahu ya istilah matahari kembar itu kalau kita kaitkan dengan ilmu komunikasi kan orang mengatakan realitas itu tidak pernah telanjang. Atau orang mengatakan informasi adalah interpretasi,” jelasnya.
Lebih lanjut Haryatmoko mengatakan isu matahari kembar yang berkembang di publik bisa jadi cara supaya mendesak kepada dua pihak yang dianggap supaya Prabowo mengambil tegas, saya ya yang presiden aktualnya.
Jokowi: Tak Ada Matahari Kembar, Pemimpin Hanya Satu
Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), menepis isu dualisme kepemimpinan nasional atau yang dikenal dengan istilah “matahari kembar”. Ia menegaskan, hanya ada satu pemimpin negara saat ini, yaitu Presiden terpilih Prabowo Subianto.
“Mengenai matahari kembar, enggak ada yang namanya matahari kembar. Matahari itu hanya satu, yaitu Presiden Prabowo Subianto. Sudah itu jelas,” ujar Jokowi saat ditemui awak media di kediamannya, Jalan Kutai Utara No.1, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Kota Solo, Jawa Tengah, dilansir dari Beritasatu.com, Selasa(22/4/2025).
Pernyataan ini sekaligus menepis isu yang menyebutkan adanya dualisme kepemimpinan, menyusul ramainya menteri dan wakil menteri (wamen) yang mendatangi kediaman Jokowi selama masa Lebaran dan bulan Syawal.
Utus Jokowi ke Vatikan, Prabowo Dinilai Tunjukkan Kepercayaan di Tengah Isu Matahari Kembar
Presiden Prabowo Subianto dinilai menunjukkan kepercayaan terhadap Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) di tengah isu matahari kembar di pemerintahan.
Hal ini terlihat dari Prabowo yang menyertakan Jokowi dalam rombongan yang mewakili Indonesia menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Vatikan.
Pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Research and Consulting, Pangi Syarwi Chaniago, menilai Prabowo memiliki tingkat kenyamanan alias level of confidence yang tinggi terhadap Jokowi.
“Artinya Pak Jokowi masih dipercaya Pak Prabowo, ya memang antara presiden enggak boleh diputus silaturahmi, harus saling mendukung, harus ada soliditas yang kuat untuk menyukseskan pemerintahan,” ungkap Pangi dalam talkshow Overview Tribunnews, Rabu (23/4/2025).
Terkait sikap Prabowo yang menunjukkan sikap tidak terganggu dengan isu matahari kembar, Pangi hanya mengingatkan soal penumpang.
“Saya sudah mengatakan, Prabowo enggak terganggu ya enggak ada masalah. Khawatirnya, nanti ketika gejolak yang kita enggak bisa prediksi ke depan karena banyaknya penumpang gelap,” ungkap Pangi.
Pangi menyebut, Prabowo semestinya memiliki legitimasi yang kuat dari rakyat sebagai presiden terpilih yang benar-benar menjalankan pemerintahan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan secara efektif.
“Dan bagaimana loyalitas, solidaritas, dukungan yang kuat dari partai pendukung, kemudian dari menteri-menteri yang ditunjuk sama beliau kemudian tidak mengkhianati beliau. Itu saja,” ujar Pangi.
Selain itu, Pangi menyebut, Prabowo pernah mengatakan bahwa dirinya kerap mendapat pengkhianatan.
“Nah, mudah-mudahan kali ini enggak ada hal itu. Kalau Pak Prabowo enggak terganggu ya enggak ada masalah. Kita juga cuma mengingatkan supaya omongan menteri itu tolong dijaga dengan baik,” ujarnya.
Siapa Saja yang Berangkat ke Vatikan?
Diketahui, Presiden Prabowo mengutus sejumlah nama mewakili Indonesia menghadiri pemakaman Paus Fransiskus di Roma, Italia, pada 26 April 2025.
Menteri Sekretaris Negara sekaligus juru bicara presiden, Prasetyo Hadi, mengatakan Prabowo berhalangan menghadiri pemakaman tersebut.
”Atas nama pemerintah Indonesia, Bapak Presiden Prabowo Subianto memutuskan mengutus beberapa tokoh untuk menghadiri acara pemakaman di Vatikan,” kata Prasetyo di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (23/4/2025).
“Di antara tokoh-tokoh yang diutus oleh Bapak Presiden Prabowo mewakili bangsa dan negara Indonesia adalah yang pertama Presiden ke-7 Bapak Joko Widodo,” kata Prasetyo.
Selain itu, ada sejumlah menteri Kabinet Merah Putih yang bakal ikut serta.
Prabowo juga mengutus Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, Menteri HAM Natalius Pigai, dan eks Ketua Panitia Kedatangan Paus ke Indonesia, Ignasius Jonan.
Utusan yang dikirim oleh Prabowo ke Roma itu, diharapkan dapat mewakili bangsa dan negara Indonesia memberikan penghormatan terakhir pada pemimpin tertinggi gereja Katolik dunia tersebut.
Selain itu, mewakili Indonesia menyampaikan simpati dan belasungkawa atas wafatnya Kepala Negara Vatikan tersebut.
Prasetyo menyampaikan, pemerintah kini tengah mengatur waktu keberangkatan utusan RI tersebut. Ia menyebut, mereka kemungkinan bertolak ke Vatikan pada Kamis (24/4/2025) atau selambat-lambatnya Jumat (25/4).
“Untuk keberangkatan sedang diatur, mungkin bisa jadi akan berangkat besok hari Kamis atau selambat-lambatnya hari Jumat,” ujar dia.





















































