Mengapa Jabodetabek Masih Hujan meski Mulai Musim Kemarau?

oleh -687 Dilihat

JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut, wilayah Jabodetabek masih berpotensi hujan meski saat ini sudah memasuki awal musim kemarau.

Direktur Meteorologi Publik BMKG Andri Ramdhani menjelaskan, awal musim kemarau untuk wilayah Jabodetabek diperkirakan dimulai sejak dasarian pertama Mei 2025 hingga awal Juni.

Namun, kondisi atmosfer yang dinamis menyebabkan cuaca di sejumlah wilayah masih dipengaruhi hujan.

“Bulan Mei ini secara umum masih berada dalam masa peralihan musim dari hujan ke kemarau, yang ditandai dengan cuaca panas pada pagi hingga siang hari serta potensi hujan pada sore atau malam hari,” ujar Andri dalam keterangannya, Minggu (4/5/2025).

Dalam beberapa hari terakhir, wilayah Jakarta, Bekasi, dan Depok dilanda hujan deras disertai angin kencang.

BMKG mencatat, kondisi ini salah satunya dipengaruhi oleh keberadaan sistem bibit siklon tropis 92S yang terpantau sejak 2 Mei 2025, pukul 13.00 WIB, di sekitar perairan selatan Jawa Tengah.

“Sistem ini bergerak ke arah barat hingga barat daya dan memicu pertemuan massa udara (konvergensi) serta belokan angin yang berperan dalam meningkatkan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai angin kencang dan kilat atau petir di sejumlah wilayah Pulau Jawa,” jelas dia.

Selain hujan, bibit siklon tersebut juga menyebabkan peningkatan kecepatan angin lebih dari 25 knot serta ketinggian gelombang laut antara 1,25 hingga 2,5 meter di Samudera Hindia selatan Jawa hingga Bali.

“Yang masuk dalam kategori laut sedang (moderator sea),” imbuh dia.

Meski berdasarkan analisis per 4 Mei 2025 pukul 07.00 WIB bibit siklon 92S sudah tidak lagi aktif, pola tekanan rendah yang sebelumnya terasosiasi dengan sistem tersebut masih terdeteksi.

“BMKG terus memantau perkembangan sistem ini dan menganalisis potensi dampaknya terhadap pola cuaca dalam beberapa hari ke depan,” kata Andri.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, angin kencang, dan petir, yang dapat terjadi sewaktu-waktu selama masa peralihan musim ini.

Mar.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet