Konklaf Ritual Untuk Memilih Paus Yang Baru

oleh -2082 Dilihat
oleh

Vatikan – Konklaf adalah ritual khas untuk memilih Paus yang baru, sang Pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma sedunia. 133 Kardinal yang mengikuti Konklaf, bisa memilih dan bisa juga dipilih. Yang berhak memilih dan dipilih dalam Konklav hanya para Kardinal yang berumur di bawah 80 tahun. Selama ini, sejak kematian Paus Fransiskus tanggal 21 April 2025 yang lalu, Vatikan dan Gereja Katolik mengalami kekosongan Tahta Suci yang disebut dengan istilah “sede vacante”.

Asap Hitam Lagi di Konklaf, Paus Baru Belum Terpilih ?

Asap hitam kembali mengepul dari cerobong Kapel Sistina pada Kamis (8/5/2025), menandakan belum adanya keputusan dalam konklaf pemilihan paus baru. Ribuan umat Katolik dari berbagai penjuru dunia yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus masih harus menunggu hasil pemungutan suara dari 133 kardinal elektor. Ini merupakan hari kedua konklaf yang digelar setelah wafatnya Paus Fransiskus pada 21 April 2025.

Pada hari pertama konklaf, Rabu (7/5/2025), asap hitam juga muncul dari cerobong yang sama.

Dalam tradisi Gereja Katolik, asap hitam menandakan bahwa belum ada suara bulat dari para kardinal dalam memilih paus baru. Sebaliknya, asap putih menjadi penanda bahwa seorang paus telah terpilih.

Dikutip dari Vatican News, kemunculan asap putih nantinya akan disusul dengan pengumuman resmi dari balkon Basilika Santo Petrus.

Kardinal Protodikon akan menyampaikan kalimat dalam bahasa Latin, Habemus Papam, yang berarti “Kita memiliki Paus.” Setelah itu, paus yang terpilih akan tampil di hadapan umat dan dunia, memperkenalkan diri, serta mengumumkan nama baru yang akan digunakannya selama masa kepausan.

Konklaf berlangsung dalam dua sesi pemungutan suara setiap harinya, masing-masing pada pagi dan sore waktu setempat. Surat suara yang tidak menghasilkan keputusan akan dibakar dalam tungku khusus. Agar warna asap yang keluar dapat dikenali dengan mudah, proses pembakaran menggunakan campuran bahan kimia.

Asap hitam dihasilkan dari campuran kalium perklorat, antrasena, dan belerang. Sementara asap putih berasal dari pembakaran surat suara dengan campuran kalium klorat, laktosa, dan resin kloroform. Tradisi membakar surat suara ini sudah berlangsung sejak abad ke-15. Awalnya bertujuan mencegah kecurangan, sistem tersebut kemudian disempurnakan secara teknis agar publik bisa mengetahui hasil konklaf secara langsung. Hingga kini, sekitar 1,4 miliar umat Katolik di seluruh dunia menantikan kemunculan asap putih dari Kapel Sistina—tanda bahwa Gereja Katolik telah memiliki pemimpin tertinggi yang baru.

nikolas sinar naibaho