,

LAB ( Lembaga Adat dan Budaya ) Kabupaten Samosir, yang terdiri dari 61 Bius Ikuti Even Horja Bius dengan ritual Mangalahat Horbo .

oleh -4080 Dilihat
oleh

SAMOSIR , Pemerintah Kabupaten Samosir kembali menggelar even Horja Bius dengan ritual “Mangalahat Horbo”. Even ini merupakan rangkaian kegiatan Horas Samosir Fiesta (HSF) 2025 yang sudah dicanangkan beberapa waktu lalu.

Sebagai salah satu langkah untuk pelestarian keragaman budaya batak yang dipadukan dengan pagelaran budaya Gondang Naposo, diselenggarakan di Onan Sipulo Kecamatan Palipi, Jumat (3/10/25).
Mangalahat Horbo menjadi bagian yang unik dan sakral dalam Horja Bius ini. Prosesnya dapat dilihat mulai dari aksi makkarihiri yaitu mengikat moncong kerbau dengan jalinan rotan, ijuk sampai ke kepala yang dilakukan oleh pakkarihiri (pawang yang dapat menjinakkan kerbau).

Lengkap mengenakan ulos, Pakkarihiri dibantu beberapa orang menarik kerbau menuju “borotan” (sebatang kayu yang dihiasi) diiringi alunan Gondang dan Sarune (alat musik khas Batak Toba). Orang-orang yang hadir ikut manortor dan menirukan alunan Gondang. Kerbau yang ditambatkan akan dijadikan persembahan. Horja Bius Mangalahat Horbo ini dikemas mengikuti budaya leluhur Batak oleh Lembaga Adat dan Budaya Kabupaten Samosir, yang terdiri dari 61 Bius dan tersebar di 9 kecamatan di Kabupaten Samosir.
Mendampingi Bupati Samosir turut hadir Wakil Bupati Samosir Ariston Tua Sidauruk, Anggota DPRD Noni S. Situmorang, Pabung, Kapolsek Palipi, Ketua PKK, Ketua DWP, Para SAB, Asisten, Kepala OPD dan Camat se-Kabupaten Samosir.

Bupati samosir Vandiko T. Gultom mengatakan Horja Bius akan dijadikan sebagai even tahunan untuk melestarikan budaya Batak yang dikemas menjadi sebuah pertunjukan menarik minat wisatawan. “Kita harus menjaga budaya yang sudah turun menurun agar tetap terjaga dengan baik. Banggalah kita menjadi suku Batak yang telah memiliki keunikan tersendiri dengan adat dan budayanya. Kita jaga dan lestarikan, agar dapat dinikmati anak cucu kita,” kata Vandiko
Even ini kata Vandiko akan menjadi pelindung, untuk melindungi budaya dari dampak negatif perkembangan jaman.

Keorisinilan dan keunikan budaya seperti Horja Bius, Opera Batak dan Gondang Naposo harus tetap dijaga. “Budaya ini sudah di turunkan oleh nenek moyang kita, kita harus jaga dan ini juga akan semakin menguatkan Kabupaten Samosir sebagai titik awal peradaban Batak,” pungkas Vandiko.

Wakil Bupati Samosir Ariston Tua Sidauruk berharap pelaksanaan even setiap tahunnya harus tetap dievaluasi agar lebih baik.
“Kita akan kaji lebih lanjut usulan yang di berikan masyarakat, mudah-mudahan dapat kita realisasikan,” ucapnya.
Tokoh masyarakat Kecamatan Palipi yang juga mantan Wabup Kabupaten Samosir, Juang Sinaga memberi apresiasi kepada Pemkab Samosir atas penyelenggaraan even ini. “Kami dari masyarakat, dan seluruh bius menyambut baik even ini dan kami bersukacita,” kata Juang.

Juang berharap, pesta budaya ini dapat memacu geliat pariwisata semakin berkembang khususnya di Kecamatan Palipi . Dengan penghargaan yang diberikan Pemkab Samosir, Juang mengajak masyarakat Kecamatan Palipi berbenah menjadi daerah wisata yang berkelanjutan.
Ketua Lembaga Adat dan Budaya (LAB) Kabupaten Samosir, Pantas M. Sinaga menyampaikan Horja Bius dilaksanakan tidak semata-mata hanya kegiatan rutin. “Kegiatan ini tidak hanya rutinitas, yang utama adalah melestarikan adat dan budaya yang ada di tanah batak,” ungkapnya.

Untuk itu, Pantas memohon dukungan dari pemerintah agar tetap mendukung kegiatan pelestarian budaya tersebut setiap tahunnya.
Mewakili Forkopimda, Anggota DPRD Samosir Noni S Situmorang meminta agar Pemkab Samosir mendukung Onan Sipulo (lokasi acara) dijadikan rest area wisata Kabupaten Samosir. “Kami dari DPRD siap mendukung, agar pariwisata di daerah Palipi, Sitiotio, Nainggolan dan Onanrunggu semakin berkembang. Acara ini sangat penting kita lakukan untuk menjaga generasi muda kita, supaya tidak terlindas perkembangan jaman,” ucap Noni.

Event ini akan berlangsung selama dua hari, hari kedua Sabtu (04/10/2025) dilanjutkan dengan Festival Gondang Naposo yang diikuti Naposo dari seluruh Kecamatan se-Kabupaten Samosir.

Perlu diketahui Horja Bius adalah upacara adat tradisional Suku Batak Toba yang memiliki makna sebagai musyawarah antar warga untuk menyelesaikan permasalahan dan menghasilkan kesepakatan atau keputusan bersama.

Istilah “Horja” merujuk pada perhimpunan yang terdiri dari beberapa Huta, sedangkan “Bius” adalah paguyuban yang memiliki kekuasaan dan pemerintahan dalam wilayah tertentu.

Dalam konteks budaya Batak Toba, Horja Bius terdiri dari beberapa ritual, seperti:
Ulaon Hahomion: Ziarah ke makam leluhur dan memohon berkat serta perlindungan
Tortor Tunggal Panaluan: Tarian sakral dengan tongkat tunggal panaluan sebagai simbol kekuatan gaib
Mangalahat Horbo: Upacara persembahan kerbau sebagai ungkapan syukur kepada leluhur
Tujuan Horja Bius adalah :
Memohon Berkat dan Perlindungan*: Memohon agar roh dan kekuatan gaib memantau kehidupan warga dan memberikan kemakmuran serta ketentraman
Menghormati Leluhur: Menghormati dan memohon restu dari leluhur dalam setiap kegiatan adat dan kehidupan sehari-hari
Meningkatkan Kesejahteraan: Meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ritual dan upacara adat .

Suku Batak Toba memiliki kebudayaan serta tradisi turun temurun yang beragam dan masih dijalankan sampai saat ini. Salah satunya tradisi Horja Bius, adat musyawarah antar warga untuk menyelesaikan permasalahan guna menghasilkan kesepakatan bersama.

Asal-usul Tradisi Horja Bius
Dilansir dari laman resmi Badan Pelaksana Otorita Danau Toba, Horja Bius merupakan tradisi parmalim yang berusia ratusan tahun. Tradisi ini merupakan elemen dasar dalam sistem kelembagaan masyarakat Toba dalam menyelesaikan masalah dengan mengedepankan musyawarah.

Upacara Horja Bius merupakan tradisi yang dijalankan oleh masyarakat Batak Toba di Sumatera Utara. Upacara ini mencerminkan kehidupan, kepercayaan, dan nilai-nilai masyarakat Batak.

Dalam tafsir simbolik, Horja Bius diyakini melambangkan kebersamaan, keseimbangan, dan persatuan antara manusia, alam, dan roh leluhur. Upacara ini mencerminkan sistem kepercayaan suku Batak yang berpusat pada kekuatan alam dan kehidupan setelah kematian.

Simbol yang digunakan dalam upacara Horja Bius memiliki arti mendalam, seperti penggunaan pakaian adat yang mencerminkan keindahan dan kekayaan budaya Batak. Musik dan tarian tradisional yang mengiringi langkah-langkah dijalankan dengan penuh keindahan dan kekuatan.

Horja Bius juga melibatkan penggunaan simbol alam seperti air, api, dan tanah. Air melambangkan kesucian dan kehidupan yang terus bergerak.

Api melambangkan roh leluhur yang memberikan kehangatan dan perlindungan. Tanah melambangkan akar dan identitas suku Batak yang kuat dan berkelanjutan.