Kasus Covid-19 Dengan Varian Baru Kembali Naik

oleh -540 Dilihat
oleh

Jakarta-Himbauan dari Kementerian Kesehatan agar warga tetap waspada setelah mereka mencatat peningkatan akumulasi kasus Covid-19 tiap pekan dalam beberapa waktu belakangan.

“Ada peningkatan kasus, dari yang biasanya 10-20 kasus per minggu, pekan kemarin ada peningkatan sampai 267 kasus per minggu,” ujar Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi.

Tak hanya di Indonesia, situasi serupa juga terjadi di sejumlah negara Asia Tenggara lainnya, seperti Singapura, Malaysia, dan Filipina.

Peningkatan kasus Covid-19 di kawasan ini menjadi sorotan, terutama karena terjadi menjelang musim liburan Natal dan Tahun Baru.

Kementerian Kesehatan pun mengimbau agar warga berhati-hati ketika akan bepergian di dalam negeri, mau pun ke negara-negara yang sedang mengalami peningkatan kasus Covid-19.

Juru bicara Kemenkes, Syahril Mansyur, memaparkan bahwa secara umum, gejala Covid subvarian EG.2 dan EG.5 lebih ringan ketimbang varian-varian sebelum Omicron.

“Tidak ada gejala khusus. Hanya batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan demam. Lebih ringan,” tutur Syahril.

Meski demikian, Syahril tak menutup kemungkinan subvarian EG.2 dan EG.5 dapat menimbulkan gejala berat pada orang-orang yang memiliki komorbid.

Di tengah kemungkinan kenaikan kasus Covid ini, sejumlah pihak khawatir melihat warga yang seperti sudah tidak peduli, apalagi setelah Presiden Jokowi mencabut status pandemi dan membubarkan satuan tugas corona.

Sejumlah gerakan inisiatif warga, seperti Lapor Covid dan Kawal Covid, juga sudah tak begitu aktif.

Berdasarkan pantauan pada Rabu (06/12), situs Kawal Covid terakhir kali merilis pembaruan data pada 22 Januari lalu. Sementara itu, situs Lapor Covid-19 terakhir kali mengunggah kajian pada Juni lalu.

Syahril membeberkan bahwa walau perhatian warga sudah tak begitu terfokus pada Covid, pihaknya tetap melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran lebih lanjut di tengah peningkatan kasus ini.

Ia menjabarkan dua upaya pemerintah. Pertama, pendekatan dan imbauan kepada masyarakat.

“Harus waspada dan peduli terhadap diri sendiri dan lingkungannya. Pakai PHBS [perilaku hidup bersih dan sehat] dan menerapkan protokol kesehatan. Kalau ada yang sakit, diminta pakai masker, isolasi mandiri,” ucapnya.

Kedua, pemerintah juga mewanti-wanti petugas kesehatan agar tetap waspada dan berkaca pada cara-cara penanganan kesehatan selama masa pandemi dulu.

“Selain itu, upaya juga dilakukan di pintu masuk [ke Indonesia]. Jadi kalau ada masyarakat yang pergi ke negara-negara yang sedang naik kasusnya, dia hati-hati. Kalau tidak ada urgensi, lebih baik ditunda,” tutur Syahril.

Meski demikian, Masdalina mengingatkan bahwa pembatasan tak pernah menjadi solusi dalam pengendalian wabah.

Ia menganggap pemerintah seharusnya lebih berfokus pada penyediaan infrastruktur dan sarana agar masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan, mulai dari vaksinasi hingga rawat inap.

“Ada sebagian kecil dari masyarakat yang akan terinfeksi mengalami kondisi berat. Karena itu, menyiapkan kapasitas tempat tidur yang cukup itu merupakan tanggung jawab pemerintah,” katanya.

“Infrastruktur lain, seperti oksigen, obat-obatan, itu sebaiknya tidak hilang, tetap seperti ketika [varian] Delta menyerang kita.”

Tak hanya pemerintah, masyarakat juga memikul tanggung jawab sendiri untuk mencegah penularan dan peningkatan kasus Covid.

Masdalina mengatakan, salah satu cara terampuh adalah dengan melindungi kelompok dengan risiko tinggi, yaitu manula, orang dengan komorbid, juga bayi dan anak-anak.

“Caranya bagaimana? Tentu kita masih mengingat bagaimana kita mengendalikan Covid 2-3 tahun lalu. Protokol kesehatan masih relevan dan cukup signifikan untuk membantu,” tutur Masdalina.

Ia juga mengimbau agar warga menghindari kerumunan dan berupaya menjaga jarak, terutama menjelang musim libur Natal dan Tahun Baru.

“Biasanya banyak pesta di Tahun Baru, tapi mohon untuk sementara waktu, berpesta mungkin bisa, tapi kembali ke protokol kesehatan sambil berpesta sambil pakai masker tidak akan mengurangi makna pesta itu sendiri,” katanya.

(Sarah Nathania)

Response (1)

Komentar ditutup.