Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberi penjelasan mengenai air hujan buatan hasil modifikasi cuaca yang mengguyur sejumlah wilayah Indonesia beberapa hari belakangan. BMKG memastikan air hujan buatan tersebut tidak berbahaya.
“Bahan yang digunakan dalam modifikasi cuaca seperti garam dapur (NaCl) atau KCl berkualitas food-grade bersifat non-toksik dan digunakan dalam dosis yang sangat kecil,” kata BMKG lewat akun IG resminya, @infoBMKG, Kamis (24/9/2026).
BMKG juga memastikan pihaknya telah melakukan uji laboratorium terhadap air hujan dari modifikasi cuaca. Hasilnya, air hujan buatan tidak berbahaya.
“Hasil uji laboratorium juga menunjukkan air hujan hasil modifikasi cuaca bersifat netral hingga basa dan tidak berbahaya,” lanjut BMKG.
Kemudian, BMKG juga menjelaskan alasan air hujan buatan pertama yang terlihat kotor. BMKG memastikan air tersebut turut jatuh ke daratan bersamaan dengan partikel debu, polusi, hingga karhutla.
“Tetesan air hujan mampu menyapu partikel debu, polusi kendaraan, bahkan asap karhutla di udara saat jatuh ke bumi. Jadi, baik alami atau hasil modifikasi, air hujan bilasan pertama yang kotor murni karena kondisi atmosfer yang tercemar, bukan akibat bahan pembenih awan,” jelas BMKG.






















































