Punguan Pomparan Toga Sijabat, disingkat PPTS yang menaungi seluruh Anak, Boru/Pamoruan, Bere dan Ibebere Sijabat yang terdiri atas 7 Sohe/Ompu (Gusar, Penjabat, Sidaboltok, Datu Tala, Tuan Diangkat, Holbung dan Manangkuhuk) sejatinya adalah Organisasi sosial berdasarkan Marga. Ada kebiasaan baik orang Batak, yang selalu mengikat persaudaraan sedarah dengan membentuk wadah kumpulan marga berskala area, bisa Kampung, Kecamatan, Propinsi, Nasional bahkan Dunia. Organisasi ini sungguh merupakan wadah pengikat silaturahim diawali dari skala Lokal dan selanjutnya skala Nasional bahkan Internasional. Tidak jarang Politikus dan atau Pemimpin memakai Wadah ini untuk mengembangkan visi missinya lebih luas karena secara prakteknya merupakan jalan langsung berpapasan dan berbaur dengan kolompok akar rumput (grass root) sehingga membuatnya dapat lebih efektip berkarya dan mempengaruhi.

Kembali ke PPTS. Sejatinya Ia dibentuk untuk merajut sillaturahim berdasarkan marga dan budaya dan untuk skala tertentu, agama suku Tapanuli.
Namun Wadah ini punya karakteristik dibanding dengan wadah marga lain.
Sejarah mencatat bahwa turunan Raja Sidaboltok ratusan tahun lalu telah merantau dan menetap ke Rakut Besi, daerah percampuran antara Batak Toba, Karo dan Simalungun. Perantau Sidaboltok dimaksud lebih lanjut berkampung di Karo dan Silalungun. Muncullah marga baru Sijabat, yakni Jawak atau Dajawak. Seiring dengan kemunculannya Sijabat tidak lagi wadah hanya orang tapanuli, tetapi juga orang Simalungun dan Karo yang sekaligus membawa budaya dan adat istiadat dan bahkan agama dan BAHASA yang beragam. Dengan demikian Sijabat telah lebih kaya akan variasi budaya, adat istiadat, BAHASA dan agama.
Tidak berhenti sampai di sana. Ternyata keturunan Sijabat telah juga merantau dan menetap di Aceh Darussalam dan terakhir sampai ke Aceh Singkil. Maka semakin kayalah Sijabat. Dia telah memiliki adat dan budaya, agama dan BAHASA Toba, Karo, Simalungun dan Aceh. Ke depan bukan tidak mungkin jika Sijabat juga telah bermukim di daerah lain yang tentu saja dengan adat, budaya, agama dan BAHASAnya. Tokoh-tokoh Sijabat bertugas mencarinya sehingga semua Turunan Sijabat ternaungi dalam satu wadah.
PPTS, dengan cerdik telah membuat WA Grup atau WAG dengan tujuan untuk memelihara dan merajut lebih erat sillaturahim sesama warga PPTS sealam semesta dengan berbagai adat/budaya, agama dan BAHASA tadi.
Memang tidak dapat dipungkiri semulanya PPTS didominasi oleh Batak Tapanuli sehingga wajar dan tidak salah, kita sehari-harinya memakai BAHASA Toba yang hingga kini masih lazim digunakan bahkan di WAG ini. Hal itu dilakukan dengan tidak kesengajaan sadar atau bertujuan untuk politisasi BAHASA Toba ke Karo, Simalungun dan Aceh.
Tentulah semua warga PPTS pasti mengamini bahwa awal dari Sijabat adalah Samosir dengan adat/budaya dan BAHASA Toba sehingga pantas juga Sijabat Aceh, Simalungun dan Karo mempelajarinya. Di lain pihak tentulah kita semua tidak punya niatan memaksakan kehendak agar Sijabat non Tapanuli harus menggunakan BAHASA Toba. Saya yakin hal itu pasti, hanya karena tidak sadar saja.
Maka, seperti judul tulisan ini, demi merajut lebih erat tali Sillaturahim dan persatuan kesatuan warga PPTS dimanapun berada, apapun yang kita bicaran/sampaikan di wag ini marilah menggunakan/memakai BAHASA yang dipahami oleh kita semua, iyalah BAHASA INDONESIA saja di WA Group dan ayo mulai sekarang.
Semoga harapan dan himbauan ini semakin mempererat tali persaudaraan di keluarga besar Sijabat

Horas… Mejuah-juah… Horas



.

.

.

.

editor : nikolas sn


















































