Medan-Lebih memilih belanja online merupakan perubahan perilaku pembeli yang menyebabkan para pedagang konvensional di pasar-pasar tradisional di Kota Medan, Sumatera Utara, sepi pembeli. Akibatnya omzet para pedagang menurun drastis sehingga kehilangan pendapatan dan terancam bangkrut alias gulung tikar.
Di pasar konvensional tradisional Pulo Brayan, Kota Medan, Sumatera Utara, Minggu (24/9/2023), para pedagang pakaian, tas, dan perlengkapan lainnya tampak sepi pembeli.
Para pedagang hanya duduk-duduk diam di depan dagangannya untuk menunggu pembeli. Bahkan beberapa pedang di pasar ini terlihat tutup. Mirisnya lagi tak satu pun pembeli tampak datang di toko mereka.
Wildahayati, salah satu pedagang pakaian di pasar tradisional Pulo Brayan Medan mengatakan, sepinya pembeli ini dikarenakan adanya migrasi pembeli ke toko online. Hal tersebut membuat dirinya mengalami penurunan omzet yang sangat drastis.
Ia juga menyebut, sejak maraknya penjualan online, penjualan di tokonya makin hari, makin menurun, bahkan dalam beberapa hari terakhir tak satu pun pakaiaan yang dirinya jajakan laku terjual.
Dia pun tak menampik barang yang dijual secara online lebih murah dibandingkan harga yang dijual di pasar konvensional.
“Kalau penjualannya seperti abang lihat, tidak ada orang. Ini kan hari Minggu, orang belanja pun tidak ada, terkadang sampai sore tidak ada yang buka. Pernah 2-3 hari tak laku jualannya. Kalau harganya ya pasti jauh berbeda, lebih murah. Kalau kami di sini harganya pasti lebih mahal, itu semua karena kami sewa ruko, biaya lainnya lagi, ” kata Wildahayati.
Hal serupa juga dikatakan Aris Rahmadani, salah seorang pedagang tas di pasar tradisional Brayan Medan. Dia juga mengaku akibat dari maraknya penjualan online dagangan tas miliknya tidak laku. Dia berharap pemerintah menghapus dunia perdagangan online.
“Jualan sepi, sehari laku saja syukur. Kalau omzet sangat menurun, hancur kita dihantam penjualan online ini. Hancur kita dengan penjualan online ini, sampai-sampai tidak bisa makan kita,” ujar Aris.
Kini para pedagang hanya bisa pasrah dengan keadaan perubahan perilaku masyarakat yang lebih memilih berbelanja online. Para pedagang berharap pemerintah menertipkan para pedagang online dan mengatur regulasi yang tepat, agar pedagang konvensional bisa kembali hidup.
Sementara itu, beberapa pedagang di pasar tradisional Pulo Brayan memilih tutup karena pendapatan yang didapat tidak sebanding dengan biaya sewa kios, gaji karyawan, dan operasional.

(Sarah Nathania)




















































