Cerita Siswa Kurang Mampu di Pinggiran Sumbawa Belum Dapat MBG, di Rumah Tak Pernah Sarapan

oleh -16 Dilihat

SUMBAWA – SDN Raberas, Kelurahan Seketeng, Kecamatan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi salah satu sekolah pinggiran yang belum mendapatkan program makan bergizi gratis (MBG).

Di SDN Raberas, MBG begitu dinanti para siswa-siswi dari keluarga yang kurang mampu.

Seorang siswi kelas 6, Azkia dengan polos bercerita kerap tidak pernah sarapan.

“Karena di rumah sering tidak ada makanan. Kadang-kadang perut saya kelaparan saat jam pelajaran,” kata Azkia saat ditemui Rabu (15/10/2025).

Sebagai anak seorang petani, uang jajan Azkia sangat terbatas.

“Saya sangat senang jika sekolah kami suatu saat dapat MBG, semoga pemerintah dengar suara kami,” kata Azkia.

Kehadiran MBG diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan bagi siswa-siswi di sekolah pinggiran.

“Kami sangat berharap program MBG ini bisa segera hadir di sekolah. Karena asupan gizi akan pengaruhi motivasi belajar siswa,” kata Kepala SDN Raberas, Amiruddin.

Ia menyebutkan kondisi ekonomi yang kurang mampu membuat mayoritas siswa berangkat sekolah tanpa sarapan.

“Banyak siswa kami yang berangkat sekolah tanpa sarapan karena keterbatasan ekonomi keluarga. Tentu ini sangat mempengaruhi konsentrasi belajar mereka,” cerita Amiruddin.

Ia meminta pemerintah dapat mendistribusikan MBG hingga ke sekolahnya. Selain meningkatkan asupan gizi, program ini juga diharapkan dapat meningkatkan semangat belajar, mengurangi angka putus sekolah, dan membantu meningkatkan prestasi akademik siswa.

Tantangan dirasakan pada luas wilayah pulau Sumbawa, sulit akses infrastruktur, distribusi yang belum terkoneksi, hingga terbatasnya jumlah dapur dan sumber daya dalam pelaksanaan MBG.

Sekda Sumbawa, Budi Prasetiyo, menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus berupaya memperluas jangkauan program MBG.

“Kami menyadari masih ada sekolah-sekolah yang belum terjangkau program ini.

Kami berkomitmen untuk secara bertahap memperluas cakupan program MBG, dengan memprioritaskan sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran dan memiliki siswa dengan kondisi ekonomi yang kurang mampu,” ujarnya.

Menurutnya, perluasan jumlah penerima MBG akan dilakukan untuk wilayah 3T.

Disebutkan, wilayah 3T menjadi prioritas antara lain: Lunyuk, Alas, Batulanteh, Moyo Hilir, Moyo Hulu, Lape, Plampang, Labuhan Badas, Labangka, Unter Iwes, Moyo Utara, Maronge, Tarano, Orong Telu, Lenangguar, dan Ropang.

“Wilayah-wilayah 3T memiliki karakteristik geografis dan demografis yang unik. Jarak antar sekolah yang berjauhan dan jumlah siswa yang tidak selalu memenuhi kuota ideal menjadi tantangan tersendiri.

Oleh karena itu, kita mengusulkan adanya titik-titik distribusi MBG yang lebih fleksibel di wilayah ini,” jelas Budi Prasetiyo.

Ia menjelaskan berdasarkan data, sebanyak 219.000 target penerima MBG di Kabupaten Sumbawa, yang sudah terealisasi sebesar 33.291.

“Sekarang ini kita sudah miliki 10 SPPG yang sudah beroperasi di Kecamatan Lunyuk, Sumbawa I, Sumbawa II, Plampang, Empang 1, Empang II, Unter Iwes I, Unter Iwes II, Tarano I dan Tarano II,” sebut Budi.

Selain itu, melalui APBN sudah diusulkan 6 SPPG yang akan dibangun.

“Ditambah wilayah 3T, yang sudah disurvei BGN, ada 30 lokasi, tapi kita masih menunggu SK BGN. Data sementara, ada 32 masyarakat mengajukan mandiri sebagai SPPG ke BGN pusat. Upaya menambah SPPG terus dilakukan,” ujar Sekda.

Dengan pendekatan yang lebih fleksibel, diharapkan program MBG dapat menjangkau seluruh anak sekolah, ibu hamil, dan ibu menyusui di wilayah 3T, tanpa terkendala oleh faktor geografis dan kuantitas.

Budi juga mengakui bahwa ada beberapa tantangan dalam memperluas jangkauan program MBG, seperti keterbatasan sumber daya dan infrastruktur.

Namun, pemerintah daerah terus mencari solusi untuk mengatasi tantangan ini, antara lain dengan mengoptimalkan anggaran yang ada, menjalin kerjasama dengan pihak swasta, dan memperbaiki infrastruktur yang ada.

Harapan akan hadirnya program MBG di sekolah-sekolah pinggiran di Kecamatan Sumbawa adalah cerminan dari kebutuhan nyata akan peningkatan gizi dan kualitas pendidikan bagi siswa-siswa yang kurang mampu.

Pemerintah daerah diharapkan dapat segera merealisasikan harapan ini, sehingga semua anak di Sumbawa memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan masa depan yang lebih baik.

Mar.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet