Jembatan Lama Tano Ponggol Tinggal Kenangan , Detik Detik Pembongkaran Jembatan

oleh -808 Dilihat
Jembatan lama Tano Ponggol

Samosir , Presiden Joko Widodo tahun 2019 lalu telah meninjau pengerjaan pelebaran Terusan Tano Ponggol di Pulau Samosir, Sumatera Utara. Jika rampung, terusan bisa dilalui oleh kapal besar. Antara Samosir dan Sumatera bisa dikelilingi. Mengurangi jarak tempuh kapal yang beroperasi di Danau Toba.
Proyek pelebaran ini bagian dari pengembangan pariwisata Danau Toba. Salah satu dari empat destinasi prioritas yang digalakkan Jokowi di era pemerintahannya.

Ternyata Tano Ponggol punya cerita yang begitu tragis. Sayang sejarahnya mulai terabaikan.

 

1. Dibangun dari keringat kerja paksa Belanda

Dari berbagai sumber yang dihimpun, Perang pecah di Tanah Batak sekitar tahun 1807-1907 dengan Belanda. Selama 29 tahun perang terjadi di negeri Toba. Perlawanan ini dipimpin oleh Sisingamangaraja XII. Seorang Raja Termasyhur suku Batak.

Masuk ke abad ke-19, proyek pengerjaan Tano Ponggol dimulai. Belanda melancarkan sistem kerja paksa karena menaklukkan tanah Batak. Meskipun di beberapa lokasi lain masih terjadi perlawanan.
Belanda ingin memisahkan daratan Sumatera dengan Samosir –kini Kabupaten Samosir. Terusan sepanjang, 1,5 kilometer digali dari keringat orang Batak. Kebijakan pembuatan Tano Ponggol punya dampak yang besar.

2. Rakyat Batak kerja paksa dengan todongan senapan

Pengerjaan dilakukan bertahun-tahun. Rakyat menggali terusan dengan todongan senapan. Tanpa digaji dan hanya mendapat makan sedanya.
Cerita soal Tano Ponggol diwariskan dari zaman ke zaman. Hingga Samosir pun menjadi pulau.
Tahun 1913 terusan itu diresmikan. Tano Ponggol –yang diartikan dengan tanah terpisah—dinamai dengan Terusan Wilhelmina pada tahun 1913.

3. Alasan Belanda masih spekulatif soal Tano Ponggol

Masih perlu dilakukan penelitian soal cerita Tano Ponggol. Tujuan Belanda membelah Sumatera dengan Samosir masih spekulatif.
Spekulasi pertama, lantaran Belanda ingin mempersempit ruang pelarian Batak menuju Samosir. Spekulasi lainnya karena Belanda ingin perahu besar bisa mengelilingi Samosir.
Itu memungkinkan Belanda mengontrol sekujur Samosir dari perairan, dan mengawasi penduduk yang melintasi jembatan. Namun masa perahu besar melintas itu hanya sebentar. Pendangkalan di Tano Ponggol terjadi. Perahu tidak bisa lewat.
Tano Ponggol terus menyempit. Waktu lalu Tano Ponggol ibarat kali kecil yang memisahkan Sumatera dengan Samosir. Status Samosir menjadi pulau terancam. Jembatan lama menghubungkannya hanya selebar sekitar 20 meter.

4. Tano Ponggol diperlebar hingga 80 meter

Pengerjaan pelebaran dimulai awal 2018 lalu. Pendalaman alur dilakukan sehingga nantinya akan dapat dilewati oleh kapal pesiar besar berbobot 2.000 DWT (Dead Weight Tonnage).

Alur Tano Ponggol sudah diperlebar . Progresnya sudah terlihat.

“Kita berharap kapal kapal nanti dapat berlabuh di sini bisa berkeliling Danau Toba tanpa ada halangan. Selama ini alurnya sangat sempit sehingga kapal kapal tidak melewatinya .

5. Tano Ponggol harus jadi pendongkrak pariwisata Toba

Pemerintah punya target kunjungan 1 juta Wisatawan Mancanegara (Wisman) ke Danau Toba. Untuk berbagai pembangunan dikebut. Pemerintah pusat mengucurkan dana segar Rp3,5 triliun untuk pengembangan. Nantinya ditambah dengan para investor yang akan bekerja sama.
Waktu lalu Presiden Joko Widodo sudah melakukan kunjungan ke sejumlah titik , Bersama para menteri dan kepala daerah, dia meninjau langsung ke beberapa lokasi yang masih dalam tahap pembangunan. Optimisme pariwisata Danau Toba berkembang semakin tinggi.
Diharapkan Tano ponggol menjadi salah satu ikon di Tano Batak .
Jembatan lama sudah dibongkar , dan akan menjadi kenangan .

Editor : Nikolas S Naibaho (Ketum YPTP)

Pengurus YPTP – Yayasan Partungkoan Tano Ponggol
Pengurus YPTP – Yayasan Partungkoan Tano Ponggol