JAKARTA – Sejumlah pedagang warteg di Jakarta Utara mulai mengeluhkan jumlah pembeli yang tidak seramai biasanya di tengah kenaikan harga bahan pangan dan kebutuhan operasional usaha.
Ayu (50), seorang penjual warteg di Rawabadak Utara, Koja, Jakarta Utara, mengatakan jumlah pelanggan yang datang ke tempat usahanya belakangan berkurang dibanding sebelumnya.
“Sekarang mah lagi sepi. Lagi kurang (ramai) sekarang mah,” kata Ayu saat ditemui Kompa.com pada Selasa (2/6/202).
Selain penurunan jumlah pembeli, Ayu menjelaskan bahwa para pengusaha rumah makan atau warteg juga tertekan karena harga berbagai kebutuhan usaha terus meningkat.
“Ya kalau dibilang parah, ya parah banget sih kalau naik semua. Ya segala cabai, segala bumbu itu, sembako itu pada naik,” ujar dia
Kondisi tersebut membuat keuntungan yang diperoleh dari berjualan semakin tipis.
Tak hanya bahan pangan, harga kebutuhan pendukung seperti plastik kemasan juga mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir.
“Plastik itu udah Rp 15.000. Yang plastik buat sayur Rp 15.000 sekarang,” kata dia.
Menurut dia, kondisi ini sudah dirasakan sejak setelah Lebaran tahun ini.
Keluhan serupa disampaikan Dian (45), pedagang rumah makan di Kebon Bawang, Tanjung Priok. Menurut dia, kenaikan harga bahan baku membuat biaya belanja harian meningkat.
“Kita biasanya kan belanja kan itu kayak standar itu, kayak misalkan nih, kita belanja abis Rp 100.000, jadi sekarang bisa nyampe abis Rp 200.000,” ujar dia saat ditemui Wartawan, Selasa.
“Pendapatan juga kan biasa minimal itu misalkan dapetnya Rp 2 Juta, bisa dapetnya cuma Rp 1,5 Juta,” lanjut dia.
Meski menghadapi kenaikan biaya usaha, Dian mengaku tidak menaikkan harga makanan karena khawatir pelanggan berkurang.
Kondisi tersebut membuat pedagang harus menyesuaikan diri agar usaha tetap berjalan di tengah kenaikan harga berbagai kebutuhan.
“Cuma aku nikmatin aja karena kenapa, karena kalau misalkan kita mahal-mahal juga kan kita ingin ada pelanggan kan. Kalau mahal nanti enggak ada pelanggan,” tutur dia.
Dian berharap harga bahan pangan dan kebutuhan usaha dapat kembali stabil karena kondisi saat ini cukup menyulitkan dirinya.
“Semoga aja ya tahun depan jangan selalu naikin terus. Kasihan sama masyarakat, sama warga-warga kecil, sama pedagang, tambah dia.






















































