Horja Bolon Horbo Lae-lae di Batu Hobon Tanggal 3-4 Agustus 2026

oleh -2918 Dilihat

Samosir – (01/08/2026) Ritual Batak, berdoa kepada Sang Pencipta, digelar selama dua hari, 3 – 4 Agustus 2026 di Batu Hobon, Sianjurmula – mula, Samosir.

Pegiat Budaya Abidan Naibaho (A Mawar Naibaho), pada Sabtu 01 Agustus 2026 menjelaskan Ritual Batak ini yang sudah dilaksanakan turun temurun kembali dilaksanakan dimulai dengan Galang Raja pasahat Horbo Laelae pada 23 Juli 2026 dan Horja Bolon-nya 3 – 4 Agustus 2026: pasahat Horbo Laelae kepada Sang Pencipta Mulajadi Nabolon.

Ketum Yayasan SirajaBatak : Ir Nikolas S Naibaho , MBA

Hadir di acara tersebut Raja Bius Sipitu Tali, Raja Bius Suhi Ampang Naopat dan Raja Bius Sitolu Hae Horbo. Hadir juga dalam kesempatan itu Nikolas Sinar Naibaho, Ketua Umum Yayasan SiRajaBatak dan Efendy Naibaho Ketua Yayasan Pusuk Buhit didampingi Ipong Galaxy Naibaho bersama Arifin Naibaho

A Mawar menjelaskan pada acara di Batu Hobon akan dilakukan ritual Margondang Dudu yang dimulai pukul 09.00 pagi. Suhut Bolon adalah Pinal boru ni Silau Raja.

Arti “Horbo Laelae” dikutip dari berbagai sumber, Horbo = Kerbau l Laelae = Yang ditambatkan / yang dipersembahkan. Jadi Horbo Laelae artinya “Kerbau Persembahan”.

Ini adalah kerbau yang dipotong dalam acara adat Batak, biasanya sebagai simbol kehormatan tertinggi. Dagingnya dibagikan ke seluruh undangan/hula-hula, dongan, boru sesuai aturan adat. Makin banyak horbo laelae, makin tinggi tingkat acara adatnya.

Kapan mulai dilaksanakan di Tanah Batak ? Tidak ada tanggal pasti tertulis karena ini tradisi lisan turun-temurun. Tapi secara garis besar: Sejak zaman dahulu kala / jaman ompung. Horbo laelae sudah ada sejak sistem kekerabatan Batak Dalihan Na Tolu terbentuk. Fungsinya buat menghormati hula-hula, mempersatukan dongantubu, dan memberi martabat ke boru.

Hal ini diperkuat setelah masuknya agama ke Tanah Batak sekitar abad 19-20, tradisi horbo laelae tetap dilanjutkan. Gereja dan tokoh adat menyepakati biar tetap jalan asal tidak bertentangan dengan iman. Sampai sekarang masih jadi “standar” di acara besar: ulaon saur matua, pernikahan adat, penobatan raja adat, atau acara pemerintahan adat. Intinya: Horbo Laelae bukan tradisi baru. Ini sudah ratusan tahun jadi bagian dari adat Batak

Jumlah horbo laelae itu tergantung kesepakatan dan kemampuan. Dulu 1 ekor aja udah sangat terhormat. Sekarang di acara besar bisa 3, 5, bahkan lebih.

Abidan Naibaho dan berbagai sumber khususnya Meta Al, juga menjelaskan mengapa digelar di Batu Hobon. Batu Hobon ada di Pulau Samosir, Sumatera Utara. Lokasinya di Desa Limbong, Kecamatan Sianjur Mulamula / Sarimarihit, Kabupaten Samosir. Tepatnya di kaki Gunung Pusuk Buhit, sekitar 11-12 km dari Pangururan. Berada di ketinggian ±1000 mdpl. Di perbatasan Kampung Sagala dan Limbong.

Pusuk Buhit sendiri dipercaya sebagai tempat turunnya Orang Batak pertama.

Arti “Batu Hobon, Hobon dalam bahasa Batak Toba artinya ” “Peti”. Bentuknya batu besar diameter ±1 meter, bagian bawahnya rongga seperti gua. Tutupnya berbentuk seperti “cinta/love”.

Ada 2 versi cerita yang paling dikenal: Versi 1: Milik Tuan Saribu Raja. Tuan Saribu Raja adalah anak kedua dari Guru Tatea Bulan. Sebelum meninggalkan Sianjur Mulamula, beliau menyimpan seluruh harta pusaka ke dalam lubang, lalu berdoa sambil menjatuhkan batu besar untuk menutupnya. Jadilah Batu Hobon yang terdiri dari 7 lapis.

Isi yang dipercaya ada di dalamnya: Ogung dan Gondang Saparangguan – Gendang Batak & Ogung Emas

Kedua, Hujur Sumba Baho – Tombak Bertuah. Piso Solam Debata- Pedang Bertuah. Pagar Pompang – Ramuan Penangkal Penyakit. Kemudian Tintin Sipajadi – Cincin Ajaib, Punga Haomasan – Batu Gosok Emas, Galapang- Gembok, Lak-Lak – Kitab berisi ajaran leluhur.

Versi 2: Peninggalan Raja Uti. Batu Hobon juga disebut peninggalan Raja Uti, cucu Siraja Batak. Fungsinya tempat menyimpan benda pusaka dan kitab ajaran leluhur. Diyakini juga sebagai tempat akhir hayat Guru Tatea Bulan. Dipercaya Masyarakat, sebagai Tempat Sakral. Sampai sekarang masih dihiasi bunga dan jadi tempat berdoa. Upacara adat masih dilakukan di sini.

Batu Hobon itu sendiri tidak bisa dibuka. Konon, sudah 3x dicoba dibuka, termasuk zaman Belanda, tapi gagal dan yang memaksa katanya mendapat musibah. Sekarang, Batu Hobon tersebut menjadi objek wisata budaya dan di atasnya ada Sopo Guru Tatea Bulan yang dibangun 1995.

Intinya, Batu Hobon itu “peti pusaka” leluhuran Batak di Samosir. Fungsinya buat nyimpan harta, ilmu, dan nilai adat. Tempat tenang dan penuh aura sejarah.

Pelaku sejarah lainnya, Hatoguan Sitanggang, dalam bincang-bincang lepas dengan formatnews.id menyebutkan kerbaunya harus marpisoran 7 buah dan darahnya harus dibawa ke Siogung-ogung.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Aron Jonathan Lastrin Naibaho, S.H. adalah anggota PWI dengan No: 09.00.21227.22B dan juga anggota Dewan Pers dengan nomor Sertifikat Kompetensi nomor UKW : 20192-PWI/WDa/DP/IX/2021/11/04/99 sesuai peraturan Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/X/2018.


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Aron Jonathan Lastrin Naibaho, S.H. adalah anggota PWI dengan No: 09.00.21227.22B dan juga anggota Dewan Pers dengan nomor Sertifikat Kompetensi nomor UKW : 20192-PWI/WDa/DP/IX/2021/11/04/99 sesuai peraturan Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/X/2018.