Terancam Dibui Oknum Ormas Bekasi Yang Menghina Suku Betawi.

  • Whatsapp

Bekasi – Sebuah video oknum organisasi kemasyarakatan (ormas) di Kota Bekasi menginterogasi seorang pemuda dan menghina suku Betawi. Kejadian ini mendorong Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi untuk melakukan pelaporan ke Polda Metro Jaya.
Video oknum ormas di Bekasi itu viral. Peristiwa disebut terjadi pada Rabu (13/10/2021) malam di Bekasi Selatan, Kota Bekasi.

Ketua Bamus Betawi, Abraham Lunggana alias Haji Lulung, pun tak terima dengan kejadian itu. Namun ia mengapresiasi warga Betawi tak terpancing main hakim sendiri.

“Ya sebagai manusia tentunya ikut marah, artinya disayangkan ada orang melakukan ujaran kebencian terhadap orang Betawi. Makanya saya apresiasi teman-teman tidak main hakim sendiri dan melaporkan kepada yang berwajib sesuai dengan tujuan dari pada laskar Betawi sebagai penegak hukum,”, kata Lulung.

Kabarnya Bamus Betawi akan melaporkan peristiwa itu ke Polda Metro Jaya.

Bamus Betawi melalui Persatuan Advokat Betawi (PADI) akhirnya melaporkan oknum ormas di Kota Bekasi ke polisi. Atas ucapan ‘orang Betawi bodoh’, oknum ormas itu dilaporkan terkait UU ITE.

“Kami minta Kapolda Metro agar kerukunan yang terjadi di Jakarta dan Bekasi untuk segera orang ini ditangkap karena akan meresahkan dan membuat gaduh,” kata tim kuasa hukum Bamus Betawi, Ramdan Alamsyah, di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (15/10).

Laporan itu teregister dengan nomor polisi LP/B/5110/X/2021/SPKT/POLDA METRO JAYA, tanggal 15 Oktober 2021. FN dilaporkan terkait Pasal 28 ayat (2) UU ITE juncto Pasal 45 dan 156 KUHP dan Pasal 14 UU No 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Menurut Ramdan, ada dua orang yang dilaporkan oleh pihaknya. Terlapor itu mulai perekam video hingga oknum anggota ormas berinisial FN yang diduga melakukan penghinaan kepada suku Betawi.

“Oknum ini inisial FN. Ini harus segera ditangkap karena sangat melukai kami. Orang Betawi itu tidak bodoh kami punya profesi posisi terhormat. Tentunya keterbatasan pemikiran yang diduga pelaku sangat menyakitkan kami. Kaum Betawi tidak seperti apa yang diucapkan,” terang Ramdan.

Selain itu, Ramdan mengatakan, meski pihak terlapor disebut telah meminta maaf, dia menyebut kasus hukum yang berada di Polda Metro Jaya tetap dilanjutkan.

“Perdamaian yang dia lakukan adalah bukan dalam konteks perdamaian ucapan. Nah, sedangkan ucapan itu kompleks dan timbulkan efek sosial. Makanya kami Bamus Betawi tuntut daripada Polda (Metro), Pak Kapolda, tolong segera ditindak,” terang Ramdan.

­čîĆnikolas s naibaho­čîĆ

.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.