MOSKWA – Sebuah video yang beredar di media sosial dan dibagikan oleh jaringan berita internasional milik Rusia, RT, memperlihatkan sejumlah dokter di sebuah ruangan operasi saat gempa bermagnitudo 8,8 melanda Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada Rabu (30/7/2025) pagi.
Mereka terlihat tetap tenang meski bangunan berguncang, dan melanjutkan operasi setelahnya.
“Para dokter di Kamchatka tetap tenang selama gempa dahsyat — dan tidak menghentikan operasi.
Mereka menangani pasien hingga selesai,” tulis akun X @RT_com, mengutip pernyataan dari Kementerian Kesehatan Rusia.
Menurut laporan yang sama, operasi berlangsung sukses dan pasien kini dalam masa pemulihan.
Hingga saat ini, video tersebut telah ditonton lebih dari 130 ribu kali dan mendapat lebih dari seribu likes.
Gelombang tsunami hingga 4 meter, warga mengungsi
Gempa ini tergolong salah satu yang paling kuat dalam sejarah modern Rusia.
Akibatnya, pelabuhan-pelabuhan di sekitar episentrum di Kamchatka sempat mengalami banjir setelah tsunami menerjang wilayah pesisir.
Warga dilaporkan melarikan diri ke daerah yang lebih tinggi untuk menghindari kemungkinan gelombang susulan.
Peringatan tsunami dikeluarkan di berbagai wilayah Pasifik, termasuk Alaska, Hawaii, Jepang, bahkan hingga Selandia Baru dan China.
Di Jepang, ombak putih berbusa tampak menyapu daratan di wilayah utara.
Di Hawaii, kepanikan melanda warga yang segera meninggalkan pesisir menuju dataran tinggi, menyebabkan kemacetan parah hingga ke kawasan yang jauh dari pantai.
Menurut data resmi, ketinggian tsunami tercatat mencapai 3 hingga 4 meter di Kamchatka, 60 sentimeter di Pulau Hokkaido, Jepang, dan sekitar 30 sentimeter di Kepulauan Aleutian, Alaska.
Peristiwa besar Dave Snider, Koordinator Peringatan Tsunami dari Pusat Peringatan Tsunami Nasional di Alaska, menyebut gempa ini sebagai peristiwa geologis besar yang patut dicatat.
“Ini benar-benar peristiwa besar dan sangat signifikan,” ujarnya.
Gempa tersebut dilaporkan berasal dari aktivitas subduksi di Palung Kuril-Kamchatka yang memang dikenal aktif secara tektonik.
Dengan kedalaman sekitar 18 kilometer, mekanisme sesar dorong membuat gempa ini cukup potensial memicu tsunami besar di seantero Pasifik.
Saat ini, otoritas di berbagai negara masih memantau potensi gelombang susulan, sambil terus mengimbau warga untuk tetap menjauhi kawasan pantai sampai peringatan resmi dicabut.

Mar.



















































