DOA NASIONAL: BUKAN HANYA MEMINTA TUHAN MENGUBAH INDONESIA, TETAPI MEMBIARKAN TUHAN MENGUBAH KITA

oleh -2713 Dilihat
Santiamer Silalahi

                                Santiamer Silalahi

Shalom Saudara-saudari dalam Kristus,

Menjelang gerakan doa nasional di SICC Tower, ada sebuah kegelisahan rohani yang patut kita renungkan bersama. Di tengah berbagai persoalan bangsa yang semakin kompleks, mungkin inilah saatnya umat Tuhan tidak hanya berdoa memohon pertolongan, pemulihan, dan terobosan bagi Indonesia, tetapi juga dengan rendah hati memeriksa diri, mengakui kesalahan, dan sungguh-sungguh datang kepada Tuhan dalam pertobatan.

1. Pendahuluan: Gelombang Tuntutan Lahiriah dan Gerakan ADAM

Hari-hari ini, dinamika sosial dan politik di tengah masyarakat semakin kuat. Rakyat menyampaikan aspirasi melalui berbagai aksi dan demonstrasi untuk memperjuangkan keadilan. Para tokoh lintas agama pun menyampaikan perhatian dan tuntutan mereka kepada pemerintah terkait pengelolaan keuangan negara dan keberpihakan kebijakan kepada rakyat.

Kita tidak perlu mencela berbagai bentuk penyampaian aspirasi tersebut sepanjang dilakukan secara damai, konstitusional, dan bertanggung jawab.

Namun, sebagai umat Tuhan, kita juga memiliki medan perjuangan yang berbeda: medan rohani.

Karena itu, melalui ADAM (Aksi Damai), umat Tuhan dapat mengambil bagian dengan cara yang khas: merendahkan diri di hadapan Tuhan, mengakui dosa, berdoa bagi bangsa, dan menaikkan syafaat bagi para pemimpin serta seluruh rakyat Indonesia.

Kita dipanggil bukan sekadar menjadi penonton atas pergumulan bangsa, tetapi menjadi umat yang berdiri di hadapan Tuhan bagi bangsa ini.

Pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang salah dengan bangsa kita?”, melainkan juga, “Apa yang perlu kita koreksi di dalam diri kita sebagai umat Tuhan?”

2. Ketika Bangsa Menghadapi Krisis: Saatnya Memeriksa Diri

Alkitab berulang kali memperlihatkan bahwa ketika umat Tuhan menghadapi keadaan yang sulit, respons pertama yang perlu dilakukan bukanlah menunjuk kesalahan pihak lain, melainkan merendahkan diri dan memeriksa kehidupan sendiri.

Konsep corporate repentance atau pertobatan bersama mengingatkan kita bahwa dosa tidak selalu berhenti pada persoalan pribadi. Ada kalanya umat Tuhan perlu mengakui kegagalan kolektif: ketika kita mengetahui ketidakadilan tetapi memilih diam, melihat keserakahan tetapi ikut menikmati, memahami kebenaran tetapi memilih berkompromi, atau lebih sibuk meminta berkat daripada memperjuangkan kebenaran dan keadilan.

Karena itu, berbagai persoalan bangsa yang sedang kita hadapi hendaknya menjadi momentum untuk introspeksi nasional, bukan sekadar bahan untuk menyalahkan pihak tertentu.

Kita melihat berbagai tantangan yang perlu menjadi perhatian bersama, antara lain:

Integrasi nasional: Jarak psikologis antara sebagian masyarakat dan pemerintah perlu terus dijembatani melalui komunikasi publik yang bijaksana, empatik, dan berorientasi pada kepentingan rakyat.
Keadilan ekonomi Pancasila: Kebijakan fiskal dan perpajakan perlu senantiasa mempertimbangkan kemampuan masyarakat serta memastikan bahwa beban pembangunan dibagi secara adil.
Kualitas demokrasi: Demokrasi Pancasila perlu terus dijaga agar kekuasaan negara senantiasa berjalan dalam koridor konstitusi, hukum, kedaulatan rakyat, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Ketahanan ekonomi: Fluktuasi nilai tukar, tekanan ekonomi, dan berbagai persoalan kesejahteraan perlu dihadapi melalui kebijakan yang prudent, berkeadilan, dan berpihak kepada kepentingan nasional.

Semua persoalan tersebut tentu memiliki dimensi politik, ekonomi, hukum, dan sosial. Tetapi bagi umat Tuhan, semuanya juga harus menjadi cermin untuk memeriksa kehidupan rohani kita sendiri.

3. Memurnikan Fokus Doa Nasional

Melihat momentum gerakan doa nasional yang akan berlangsung, kiranya kita tidak hanya datang dengan daftar permohonan tentang terobosan, berkat, pemulihan, dan kenyamanan, tetapi juga membawa hati yang rela merendahkan diri dan mengakui dosa.

Bukan berarti permohonan-permohonan tersebut tidak penting. Justru semuanya penting.

Namun, mungkin ada satu unsur yang perlu mendapatkan tempat yang lebih besar: pertobatan umat Tuhan.

Sebab doa nasional tidak seharusnya hanya menjadi momentum untuk meminta Tuhan mengubah keadaan di luar diri kita. Doa juga harus menjadi kesempatan bagi Tuhan untuk mengubah hati kita sendiri.

Kita tidak datang kepada Tuhan dengan sikap, “Tuhan, ubahlah pemerintah, ubahlah bangsa ini, ubahlah keadaan kami.”

Kita juga perlu berkata:

“Tuhan, ubahlah kami. Tunjukkan dosa kami. Ampuni kami. Pulihkan kami. Dan pakailah kami menjadi garam dan terang bagi bangsa ini.”

Dengan demikian, gerakan doa nasional tidak berhenti sebagai sebuah acara besar, tetapi menjadi momentum pertobatan yang menghasilkan perubahan kehidupan.

4. Langkah Konkret Syafaat Kita

Melalui momentum ADAM (Aksi Damai) ini, mari kita mengarahkan doa kepada beberapa hal konkret:

1. Syafaat Daniel — Mengakui Dosa Bersama

Belajar dari Daniel 9, kita tidak hanya berdoa dengan mengatakan “mereka telah berdosa”, tetapi berani berkata “kami telah berdosa.”

Mari kita mengakui di hadapan Tuhan ketika gereja dan umat-Nya gagal menjadi garam dan terang; ketika kita lebih mengejar kenyamanan daripada kebenaran; ketika keserakahan, ketidakjujuran, kepentingan diri, dan kompromi telah masuk ke dalam kehidupan kita.

Pertobatan bangsa harus dimulai dari pertobatan umat Tuhan.

2. Berhenti Berkompromi dengan Dosa

Pertobatan tidak berhenti pada air mata dan pengakuan. Pertobatan harus menghasilkan perubahan.

Karena itu, mari kita memulai dari lingkungan masing-masing: keluarga, gereja, tempat kerja, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi, maupun ruang publik.

Mari kita menolak ketidakjujuran, suap, manipulasi, keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, dan berbagai bentuk kompromi dengan dosa—sekecil apa pun bentuknya.

Kita tidak dapat meminta Tuhan membersihkan bangsa ini sementara kita sendiri mempertahankan kompromi dengan dosa.

3. Berdoa bagi Pemimpin dan Kepekaan Moral

Mari kita menaikkan doa secara khusus bagi Presiden, Wakil Presiden, para menteri, Pimpinan MPR RI  dan DPR RI beserta jajarannya, para hakim, aparat penegak hukum, serta seluruh pemegang kekuasaan di negeri ini.

Kita tidak pertama-tama datang untuk menghakimi mereka, tetapi memohon agar Tuhan memberikan hikmat, keberanian moral, kepekaan terhadap penderitaan rakyat, dan hati yang takut akan Tuhan.

Kiranya setiap pemimpin memiliki keberanian untuk mengambil keputusan yang benar, sekalipun keputusan tersebut tidak selalu populer; memiliki kerendahan hati untuk mendengar suara rakyat; serta memiliki kebijaksanaan dalam mengelola setiap rupiah uang negara sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Penutup: Bukan Sekadar Meminta Tuhan Mengubah Indonesia

Saudara-saudari dalam Kristus,

Mungkin inilah saatnya kita bertanya kembali:

Apakah kita hanya ingin Tuhan mengubah Indonesia, atau kita juga bersedia Tuhan mengubah kita?

Indonesia tidak hanya membutuhkan kebijakan yang baik. Indonesia membutuhkan manusia-manusia yang baik.

Indonesia tidak hanya membutuhkan pemimpin yang bijaksana. Indonesia juga membutuhkan rakyat yang jujur.

Indonesia tidak hanya membutuhkan perubahan sistem. Indonesia membutuhkan pertobatan hati yang melahirkan kehidupan yang benar.

Karena itu, marilah kita menjadikan gerakan doa nasional bukan sekadar pertemuan besar untuk memohon berkat, tetapi altar pertobatan bagi umat Tuhan dan momentum syafaat bagi Indonesia.

Mari kita berdiri di hadapan Tuhan dengan kerendahan hati:

“Tuhan, kami tidak datang untuk menunjuk siapa yang salah. Kami datang untuk memeriksa diri kami sendiri. Ampuni kami. Pulihkan kami. Murnikan gereja-Mu. Berikan hikmat kepada para pemimpin kami. Jauhkanlah murka-Mu dari kami dan negara Indonesia, dan pakailah umat-Mu menjadi garam dan terang bagi Indonesia.”

Kiranya dari pertobatan umat Tuhan lahir doa yang sungguh-sungguh, dari doa lahir keberanian untuk hidup benar, dan dari kehidupan yang benar lahir kesaksian yang membawa perubahan bagi bangsa Indonesia.

“Jika umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.”
2 Tawarikh 7:14

Santiamer Silalahi, Ketua Umum Jaga Pancasila Zamrud Khatulistwa (ALARUWA); Sekjen Kerukunan Masyarakat Hukum Adat Nusantara (KERMAHUDATARA).

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Aron Jonathan Lastrin Naibaho, S.H. adalah anggota PWI dengan No: 09.00.21227.22B dan juga anggota Dewan Pers dengan nomor Sertifikat Kompetensi nomor UKW : 20192-PWI/WDa/DP/IX/2021/11/04/99 sesuai peraturan Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/X/2018.


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Aron Jonathan Lastrin Naibaho, S.H. adalah anggota PWI dengan No: 09.00.21227.22B dan juga anggota Dewan Pers dengan nomor Sertifikat Kompetensi nomor UKW : 20192-PWI/WDa/DP/IX/2021/11/04/99 sesuai peraturan Peraturan Dewan Pers Nomor 01/Peraturan-DP/X/2018.