Cerita Getir Para Pencari Kerja Jakarta: Di-ghosting HRD hingga Terganjal Usia

oleh -931 Dilihat

JAKARTA – Gelaran Jakarta Jobfest 2025 menyisakan cerita getir tentang tembok tinggi yang memisahkan para pencari kerja dengan pekerjaan impiannya.

Di tengah hiruk-pikuk para pelamar, terdapat perjuangan para pencari kerja yang tersandung realitas pasar kerja di Ibu Kota.

Mulai dari ratusan lamaran yang tak membuahkan hasil, hingga usia yang justru jadi halangan.

Di-ghosting HRD
Di sudut Kartika Expo, Balai Kartini, Jakarta Selatan, Alin (23), seorang sarjana Ilmu Komunikasi yang telah enam bulan menganggur tengah berdiri sendirian usai berkeliling di Jakarta Jobfest 2025.

Sebelum mengiktui bursa kerja ini, Alin sudah melamar ke lebih dari seratus perusahaan. Namun, sebagian besar tak memberikan kabar lanjutan.

“Sudah ada kali ya lebih dari 100 loker mah. Jadi udah banyak banget sebenarnya. Dari 100-an itu sih jujur emang banyakan di-ghosting ya. Entah setelah tahapan pertama atau bahkan enggak ada kabar sama sekali, di-ghosting aja gitu. Jujur sempat sampai stres sih,” ujar Alin saat ditemui di lokasi, Kamis (13/11/2025).

Alin sempat fokus melamar posisi yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya, seperti copywriter, social media officer, dan posisi di agensi periklanan, sebelum akhirnya memutuskan melamar ke bidang-bidang lainnya.

“Sebenarnya ke bidang lain juga. Kayak ke bank, terus bahkan jadi barista, waitress, ke resepsionis hotel juga pernah. Tapi ya gitu, paling sampai rekrutmen tapi belum ada yang keterima,” kata dia.

“Di titik ini sih sudah enggak apa-apa banget ya (kerja di luar bidang). Aku sih yang penting ada yang mau nerima aku,” sambung dia.

Tawaran kerja tak manusiawi

Sekalipun mendapat tawaran kerja, Alin terpaksa menolak karena gaji hanya Rp 2,5 juta untuk jam kerja yang mencapai 12 jam sehari, tanpa adanya jaminan sosial seperti BPJS Ketenagakerjaan.

Tawaran upah yang sangat jauh di bawah Upah Minimum Provinsi (UMP) itu karena Alin baru lulus dan belum memiliki pengalaman. “Alasannya karena belum punya pengalaman. Iya kan gimana mau punya (pengalaman), kami cari kerja saja susah,” ucap dia. Padahal, Alin mengaku hanya ingin mendapatkan pekerjaan dengan upah yang layak dan manusiawi.

Terganjal usia
Pada pencari kerja yang lebih senior, tantangannya justru bukan lagi soa pengalaman yang masih nol, melainkan persyaratan batas usia yang dinilai diskriminatif.

Kei (33) seorang mantan customer service, merasakan pahitnya mencari kerja di usia kepala tiga. Dia mengaku sudah menganggur selama empat bulan.

“Susah banget ya (cari kerja), tantangannya batas maksimal yang ditentukan oleh perusahaan sih. Jadi memang cukup sulit dengan usia saat ini, rata-rata itu 25 sampai 28 tahun doang,” ujar Kei.

Selain faktor usia, Kei juga terkendala minimnya pengalaman saat mencoba beralih bidang pekerjaan.

“Sebetulnya kepenginan saya, saya keluar dari bidang sih. Pengin mencoba hal yang baru. Tapi biasanya, kalau di perusahaan-perusahaan itu membutuhkan yang berpengalaman. Jadi, mau enggak mau, suka enggak suka, saya harus kembali ke bidang sebelumnya,” ucap dia.

Senada, Fadli (36) yang kehilangan pekerjaan saat pandemi Covid-19 melanda mengaku kesulitan untuk kembali ke dunia kerja formal.

“Saya pribadi fokus nyari kerjanya ke luar negeri, dikarenakan kalau dalam negeri kan terbatas umur ya, usia 36 gini sudah hampir enggak ada yang mau nerima,” kata Fadli.

Akhirnya, kini Fadli memutuskan untuk mencari peluang kerja di luar negeri yang dianggap lebih ramah terhadap pekerja berusia di atas 30 tahun.

“Umur segini jadi nyari kerja di dalam negeri itu susah. Mereka maunya nyarinya pokoknya 28 ke bawah, 27, bahkan ada yang 25. Kalau di luar negeri itu masih bisa sampai 40 ataupun 45 tahun,” ujar dia.

Masih produktif

Fadli dan banyak pekerja lain di kelompok usia tersebut merasa masih produktif.

“Toh umur-umur kayak kita kan juga masih mau kerja ya, butuh makan, butuh buat nafkahi keluarga. Semoga aja lebih mudah untuk orang-orang kayak kita, kepala keluarga yang udah umur 35 ke atas,” ucap dia.

Sementara, Kei meyakini usia yang dinilai tua oleh perusahaan bukanlah halangan baginya untuk bisa beradaptasi dan belajar di bidang baru karena sudah memiliki pengalaman kerja.

“Secara psikologis kan dibandingin yang, maaf ya, yang baru-baru lulus, kan kita sudah ada pengalaman walaupun di bidang yang berbeda,” ujar dia

Menurut Kei, pengalaman dan jam terbang membuat pekerja yang lebih senior memiliki pola pikir dan etos kerja yang lebih matang.

Ia berharap perusahaan bisa lebih menilai dari sisi kemampuan, bukan semata usia. “Yang pasti kan HR juga harusnya bisa melihatlah potensi-potensi dari masing-masing pelamar ya, enggak cuma dari usia, tapi pengalaman dan kualitas,” kata Kei.


Mar.

EDITOR

Avatar photo

SINARNEWS Media Online

Margriet


Tentang Penulis: SINARNEWS Media Online

Avatar photo
Margriet