Jakarta – Tahun 2026 akan menghadirkan rangkaian peristiwa astronomi yang menghiasi langit dari awal hingga akhir tahun. Mulai dari hujan meteor, gerhana, hingga fenomena planet, berbagai fenomena langit ini dapat dinikmati oleh pengamat di berbagai belahan dunia.
Januari: Hujan Meteor Quadrantid dan Oposisi Jupiter
Awal tahun 2026 akan dibuka dengan hujan meteor Quadrantid yang aktif sejak akhir Desember 2025 hingga pertengahan Januari 2026, dengan puncak pada 4 Januari.
Namun, kehadiran bulan purnama yang sekaligus menjadi supermoon pertama di 2026 membuat pengamatan fenomena ini kurang optimal. Masih di bulan Januari, Jupiter mencapai kondisi paling terang pada 10 Januari ketika berada pada fase oposisi, memungkinkan planet raksasa gas ini terlihat jelas sepanjang malam.
Februari: Gerhana Matahari Cincin dan Parade Planet
Memasuki Februari, langit kembali diramaikan oleh gerhana matahari cincin pada 17 Februari yang dapat disaksikan di wilayah Afrika bagian selatan, ujung Amerika Selatan, dan Antarktika.
Menjelang akhir bulan, fenomena parade planet juga terjadi, ketika enam planet-Merkurius, Venus, Saturnus, Jupiter, Uranus, dan Neptunus-tampak berjajar di langit malam, meski tidak semuanya mudah diamati tanpa alat bantu.
Maret: Gerhana Bulan Total dan Peluang Aurora
Pada 2-3 Maret menghadirkan salah satu peristiwa paling mencolok, yakni gerhana bulan total.
Pada momen ini, Bulan akan tampak berwarna jingga kemerahan dalam fenomena yang dikenal sebagai blood moon, akibat pembiasan cahaya Matahari oleh atmosfer Bumi. Gerhana ini dapat diamati di sebagian besar Amerika, Asia, dan Oseania. Masih di periode yang sama, ekuinoks musim semi di Belahan Bumi Utara turut meningkatkan peluang munculnya aurora, seiring masih tingginya aktivitas Matahari.
April: Hujan Meteor Lyrid di Langit Musim Semi
Langit April dihiasi hujan meteor Lyrid yang mencapai puncak pada 22 April. Meski tidak seaktif hujan meteor besar lainnya, Lyrid kerap menampilkan meteor terang dengan jejak cahaya yang bertahan beberapa detik, dan kondisi Bulan yang relatif mendukung membuat pengamatan cukup ideal.
Mei: Eta Aquariids dari Jejak Komet Halley
Pada Mei, hujan meteor Eta Aquariids dari sisa debu Komet Halley mencapai puncaknya pada 5-6 Mei, meski cahaya Bulan yang hampir penuh diperkirakan mengganggu visibilitas.
Juni: Konjungsi Venus dan Jupiter
Memasuki Juni, perhatian tertuju pada konjungsi Venus dan Jupiter yang tampak berdampingan di langit barat daya pada malam hari. Kedua planet ini menjadi mudah dikenali berkat cahayanya yang terang, bahkan tanpa alat bantu.
Juli-Agustus: Puncak Hujan Meteor Perseid
Memasuki pertengahan tahun, hujan meteor Perseid kembali menjadi sorotan utama. Aktif sejak Juli hingga Agustus dengan puncak pada 12-13 Agustus, Perseid menawarkan kondisi pengamatan yang sangat ideal karena bertepatan dengan fase Bulan baru, dengan potensi puluhan hingga ratusan meteor per jam.
September: Ekuinoks Musim Gugur dan Harvest Moon
Pada September, fenomena ekuinoks musim gugur terjadi ketika durasi siang dan malam hampir sama.
Tak lama setelahnya, Bulan purnama terdekat dikenal sebagai Harvest Moon akan muncul pada 26 September, sebuah istilah yang berakar dari tradisi pertanian di Eropa.
Oktober: Hujan Meteor Orionid
Oktober kemudian diisi oleh hujan meteor Orionid yang aktif hingga awal November. Meski puncaknya sekitar 21 Oktober akan terganggu cahaya Bulan, periode aktifnya yang panjang tetap memberi peluang pengamatan.
November: Gugus Bintang Pleiades di Rasi Taurus
Langit November menghadirkan objek langit yang lebih tenang namun tak kalah menarik, yakni gugus bintang Pleiades di rasi Taurus. Gugus ini dapat diamati dengan mata telanjang, meski penggunaan teropong atau teleskop akan memperlihatkan lebih banyak bintang dari keluarga “Tujuh Saudari” tersebut.
Desember: Hujan Meteor Geminid dan Supermoon Akhir Tahun
Tahun 2026 ditutup dengan dua peristiwa utama di bulan Desember. Hujan meteor Geminid, yang dikenal sebagai salah satu hujan meteor terbaik sepanjang tahun, mencapai puncaknya pada 14 Desember dengan kondisi Bulan yang relatif mendukung.
Menjelang akhir tahun, supermoon atau cold moon pada 23-24 Desember menjadi penutup rangkaian fenomena langit, saat Bulan tampak lebih besar dan lebih terang karena berada dekat titik perigee.

Mar.



















































