Jakarta – Tren membaca buku untuk tujuan kesenangan telah menurun selama 20 tahun terakhir. Hal ini barangkali salah satunya disebabkan oleh semakin banyaknya waktu yang dihabiskan untuk menggunakan media sosial.
Padahal, membaca buku kesukaan, terlepas dari genrenya, bisa berdampak baik bagi kesehatan otak. Menikmati buku yang digemari secara rutin terkait dengan beberapa hal, di antaranya peningkatan daya ingat, empati, dan kesehatan mental.
“Membaca seperti melakukan olahraga untuk kognitif,” ujar Falk Huettig dari Max Planck Institute for Psycholinguistics di Belanda, yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut seperti dikutip dari NewScientist.
Dalam penelitian baru-baru ini, Barbaca Sahakian dan rekan-rekannya dari University of Cambridge mengumpulkan bukti mengenai efek membaca untuk kesenangan dari lima survei dan delapan studi jangka panjang yang melibatkan puluhan ribu peserta.
Penelitian tersebut telah dipublikasikan di jurnal Psychological Medicine dengan judul Reading and associations with brain health, cognition, well-being, and mental health.
Kesehatan Otak
Penelitian ini menemukan bahwa kebiasaan membaca dikaitkan dengan volume grey matter yang lebih besar di otak. Grey matter merupakan bagian otak yang berperan penting dalam berbagai fungsi, termasuk proses berpikir dan mengingat.
Selain itu, membaca juga dikaitkan dengan komunikasi yang lebih kuat antarwilayah otak. Artinya, berbagai bagian otak dapat berkomunikasi dengan lebih baik satu sama lain.
Sahakian berpendapat, kondisi tersebut mungkin menjadi salah satu cara membaca membantu membangun cadangan kognitif atau cognitive reserve. Cadangan kognitif merupakan kemampuan otak untuk menghadapi perubahan akibat penuaan dan beradaptasi ketika terjadi kerusakan pada otak. Kemampuan ini juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup seseorang.
Membaca dan Kesehatan Mental
Penelitian ini juga berulang kali menemukan kaitan antara membaca untuk kesenangan dengan kesehatan mental yang lebih baik.
Secara keseluruhan, kebiasaan membaca dikaitkan dengan tingkat stres yang lebih rendah, empati yang lebih tinggi, kesejahteraan yang lebih baik, serta berkurangnya rasa kesepian.
Manfaat tersebut juga terlihat pada anak-anak. Salah satu studi menemukan bahwa anak-anak yang mulai membaca untuk kesenangan sejak usia dini memiliki luas permukaan dan volume otak yang sedikit lebih besar di area yang berkaitan dengan pengendalian emosi.
Barbara Sahakian menyoroti temuan ini karena mengingat adanya bukti kesehatan mental generasi muda saat ini lebih buruk dibandingkan beberapa dekade lalu.
Pada masa kanak-kanak, membaca juga dikaitkan dengan kemampuan perhatian, daya ingat, fungsi eksekutif, dan prestasi akademik yang lebih baik, serta lebih sedikit masalah kesehatan mental.
Sementara itu, pada orang dewasa yang lebih tua, membaca untuk kesenangan dikaitkan dengan risiko penurunan fungsi kognitif yang lebih rendah.
Bagaimana dengan Buku Fiksi?
Salah satu hal yang menarik adalah kemungkinan adanya manfaat khusus dari membaca cerita fiksi.
Ketika membaca fiksi, pembaca diajak mengikuti berbagai karakter dan peristiwa. Proses tersebut memungkinkan otak berlatih membayangkan bagaimana seseorang mungkin merespons berbagai situasi dalam kehidupan. Dengan demikian, membaca cerita dapat membantu melatih kemampuan otak dalam membuat prediksi.
Membaca fiksi juga memungkinkan seseorang merasa terhubung dengan karakter yang ada di dalam cerita. Hubungan tersebut dapat membantu mengurangi perasaan kesepian.
Di sisi lain, buku nonfiksi kemungkinan merangsang bagian otak yang berbeda. Karena itu, penelitian ini tidak menunjukkan bahwa seseorang harus memilih satu genre tertentu untuk mendapatkan manfaat dari membaca.
Lantas, buku seperti apa yang sebaiknya dibaca?
Menurut Sahakian, hal terpenting adalah membaca sesuatu yang memang dinikmati. Sebab, ketika seseorang menikmati bacaannya, ia cenderung membaca lebih sering dan dalam waktu yang lebih lama.
Dengan kata lain, manfaat membaca untuk kesenangan tidak semata-mata ditentukan oleh genre buku. Kebiasaan membaca yang dilakukan secara rutin dan karena memang disukai justru menjadi bagian penting dari aktivitas tersebut.
Jadi, bagi yang selama ini menganggap membaca hanya sebagai aktivitas untuk mendapatkan informasi, temuan ini menunjukkan bahwa menikmati sebuah buku juga dapat menjadi aktivitas yang berkaitan dengan kesehatan otak dan mental.
Lantas, bagaimana cara meningkatkan minat membaca supaya kesehatan otak dan mental tetap terjaga?






















































