Santiamer Silalahi
Pendahuluan: Mensyukuri Perjalanan, Memaknai Masa Depan
Perjalanan 165 tahun Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) merupakan momentum berharga untuk mensyukuri penyertaan Tuhan dalam sejarah dan pertumbuhan gereja. Berawal dari pelayanan yang bersahaja di Tanah Batak, HKBP telah berkembang menjadi salah satu denominasi Kristen besar yang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan menjangkau berbagai wilayah di dunia. Perayaan Jubileum ke-165 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) pada Oktober 2026 menjadi salah satu ungkapan syukur atas perjalanan panjang tersebut.
Perayaan Jubileum bukan sekadar penanda usia sebuah institusi gereja. Lebih dari itu, jubileum dapat menjadi kesempatan untuk mengenang karya Tuhan, mempererat persekutuan, menghargai pengabdian para pendahulu, serta memperbarui komitmen pelayanan bagi generasi mendatang.
Di tengah sukacita perayaan, terdapat pula kesempatan untuk melakukan perenungan bersama. Apa makna terdalam dari perjalanan 165 tahun HKBP? Bagaimana semangat syukur yang dirayakan secara bersama-sama dapat terus bertumbuh menjadi pelayanan yang nyata bagi jemaat dan masyarakat? Bagaimana gereja dapat menjaga keseimbangan antara perayaan yang mempererat kebersamaan dan pelayanan sehari-hari yang menyentuh kehidupan mereka yang membutuhkan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk mengurangi sukacita jubileum, apalagi menilai ketulusan iman pihak-pihak yang terlibat di dalamnya. Sebaliknya, pertanyaan itu merupakan bagian dari upaya bersama untuk memaknai jubileum secara lebih mendalam. Sebab, setiap momentum penting dalam kehidupan gereja dapat menjadi kesempatan untuk bersyukur sekaligus memperbarui arah pelayanan sesuai dengan panggilan iman.
I. Memaknai Gereja: Lebih dari Bangunan dan Perayaan
Dalam kesaksian Perjanjian Baru, kehidupan iman tidak dibatasi oleh tempat atau bangunan tertentu. Dalam Yohanes 4:21, Yesus mengajarkan bahwa penyembahan kepada Bapa tidak semata-mata bergantung pada tempat tertentu. Sementara itu, 1 Korintus 3:16 mengingatkan umat percaya tentang keberadaan mereka sebagai bait Allah dan tempat Roh Allah berdiam.
Kedua bagian Alkitab tersebut mengajak kita memahami bahwa gereja bukan hanya bangunan, organisasi, atau tempat berlangsungnya kegiatan keagamaan. Gereja juga merupakan persekutuan orang-orang percaya yang dipanggil untuk menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pengertian ini, perayaan besar dapat menjadi sarana untuk memperkuat persaudaraan, membangun semangat kebersamaan, dan menyatakan rasa syukur atas penyertaan Tuhan. Namun, makna perayaan akan semakin lengkap apabila semangat yang dibangun di dalamnya berlanjut dalam kehidupan jemaat, keluarga, lingkungan kerja, dan masyarakat.
Matius 6:5–6 memberikan pengajaran penting tentang ketulusan dalam beribadah. Yesus mengingatkan agar kehidupan rohani tidak dijalankan semata-mata untuk memperoleh pengakuan manusia, melainkan dengan hati yang sungguh-sungguh tertuju kepada Allah.
Pengajaran ini relevan bagi kehidupan bergereja pada masa kini, ketika berbagai kegiatan dapat dengan mudah disaksikan melalui media digital. Dokumentasi, siaran langsung, dan publikasi media sosial dapat memperluas jangkauan pelayanan serta membangun keterhubungan antargenerasi dan antarwilayah. Pada saat yang sama, perkembangan tersebut mengajak gereja untuk terus menjaga agar pesan iman tidak berhenti pada tampilan visual, melainkan juga tercermin dalam sikap, karakter, dan tindakan nyata.
Karena itu, pertanyaan yang patut kita renungkan bersama bukanlah apakah sebuah perayaan boleh berlangsung meriah, melainkan bagaimana kemeriahan tersebut dapat berjalan seiring dengan ketulusan iman, kesederhanaan hati, dan kesungguhan pelayanan.
Kemegahan dan kesederhanaan tidak harus ditempatkan sebagai dua hal yang saling meniadakan. Keduanya dapat dipertemukan dalam satu prinsip: apa pun bentuk kegiatan gereja, hendaknya kegiatan itu mendukung pertumbuhan iman, memperkuat persekutuan, dan membawa manfaat bagi sesama.
II. Menyelaraskan Visi Gereja dengan Kebutuhan Jemaat
HKBP mengemban visi untuk “Menjadi Berkat bagi Dunia.” Visi ini mengandung panggilan yang luas: menghadirkan kasih Allah melalui pelayanan yang memulihkan martabat manusia, memperhatikan kaum miskin dan tersisih, membela mereka yang lemah, memperjuangkan keadilan, serta menyampaikan kebenaran.
Visi tersebut dapat menjadi landasan bagi seluruh bentuk pelayanan gereja, baik yang berlangsung dalam perayaan besar maupun melalui kegiatan sederhana di tingkat jemaat dan masyarakat.
Dalam perjalanan menuju masa depan, salah satu pertanyaan penting yang dapat diajukan bersama ialah: sejauh mana setiap program, kebijakan, dan penggunaan sumber daya gereja telah membantu mewujudkan visi tersebut?
Pertanyaan ini bukanlah bentuk penilaian terhadap keputusan tertentu, melainkan bagian dari tanggung jawab bersama dalam mengelola kepercayaan dan sumber daya yang dipercayakan kepada gereja. Setiap program memiliki tujuan dan pertimbangannya sendiri. Karena itu, evaluasi yang baik perlu memperhatikan tujuan kegiatan, manfaat yang dihasilkan, kebutuhan jemaat, serta dampaknya bagi keberlanjutan pelayanan.
Perayaan jubileum berskala besar, misalnya, dapat memberikan manfaat dalam membangun kebersamaan, memperkuat identitas persekutuan, dan menghidupkan rasa syukur kolektif. Di sisi lain, momentum yang sama juga dapat mendorong perhatian lebih besar terhadap kebutuhan pelayanan yang berlangsung setiap hari.
Kita mengetahui bahwa di berbagai tempat masih terdapat tantangan dalam penyelenggaraan pendidikan, keterbatasan fasilitas sekolah, persoalan ekonomi keluarga, serta kebutuhan pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut mengingatkan kita bahwa panggilan gereja untuk melayani tidak berakhir ketika suatu perayaan selesai dilaksanakan.
Oleh sebab itu, jubileum dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kesinambungan antara perayaan dan pelayanan. Semangat kebersamaan yang terbangun dalam perayaan dapat diterjemahkan menjadi dukungan bagi pendidikan anak-anak, pendampingan keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, penguatan pelayanan kesehatan, serta perhatian kepada kelompok masyarakat yang rentan.
Dalam hal ini, prinsip stewardship atau penatalayanan menjadi penting. Sumber daya yang dipercayakan kepada gereja, baik berupa dana, waktu, tenaga, maupun kemampuan manusia, perlu dikelola secara bertanggung jawab, transparan, dan berorientasi pada tujuan pelayanan.
Penatalayanan bukan semata-mata persoalan memilih antara kegiatan seremonial dan pelayanan sosial. Yang lebih mendasar adalah memastikan bahwa setiap keputusan diambil dengan pertimbangan yang matang, sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan gereja, serta memberikan manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan.
Teladan raja Daud yang senantiasa mencari petunjuk Tuhan sebelum mengambil langkah, sebagaimana tergambar dalam berbagai bagian Alkitab, dapat mengingatkan para pelayan gereja dan seluruh jemaat akan pentingnya kerendahan hati dalam mengambil keputusan. Semangat tersebut mengajak kita untuk terus bertanya: apakah keputusan yang kita ambil semakin mendekatkan gereja pada panggilan pelayanannya? Apakah keputusan itu memperhatikan kebutuhan jemaat yang beragam? Dan bagaimana manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan?
Dengan demikian, kebesaran gereja tidak perlu dipertentangkan dengan kesederhanaan pelayanan. Kebesaran yang bermakna adalah kebesaran yang mampu menyatukan banyak orang dalam syukur, sekaligus menggerakkan mereka untuk menghadirkan kasih dan kepedulian dalam kehidupan nyata.
III. Spiritualitas Digital: Menjaga Kedalaman Iman di Tengah Keterbukaan Publik
Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat berkomunikasi, membangun hubungan, dan mengekspresikan keyakinan. Gereja pun memiliki kesempatan untuk memanfaatkan perkembangan tersebut dalam menyampaikan firman Tuhan, memperluas pelayanan, serta menjangkau orang-orang yang berada jauh dari pusat kegiatan gerejawi.
Media digital dapat menjadi sarana yang bermanfaat bagi kehidupan iman. Melalui dokumentasi dan publikasi kegiatan, pengalaman persekutuan dapat dibagikan kepada jemaat yang tidak hadir secara langsung. Pesan pengharapan juga dapat menjangkau masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.
Meskipun demikian, keterbukaan ruang digital menghadirkan tanggung jawab tersendiri. Apa yang ditampilkan di ruang publik sering kali hanya memperlihatkan sebagian dari kehidupan sebuah komunitas. Jumlah penonton, luasnya pemberitaan, atau tingginya interaksi di media sosial tidak dengan sendirinya menggambarkan kedalaman iman maupun keberhasilan pelayanan.
Karena itu, gereja perlu terus mengembangkan kebijaksanaan dalam menggunakan teknologi. Publikasi hendaknya tidak hanya menampilkan besarnya kegiatan, tetapi juga membantu masyarakat memahami pesan spiritual, nilai persaudaraan, dan manfaat pelayanan yang hendak disampaikan.
Refleksi ini berlaku bagi seluruh warga gereja, termasuk pemimpin, pelayan tahbisan, generasi muda, dan jemaat. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk membangun budaya digital yang mengedepankan kebenaran, kasih, kerendahan hati, dan penghormatan terhadap sesama.
Dengan pendekatan demikian, ruang digital tidak sekadar menjadi tempat untuk menunjukkan keberadaan organisasi, tetapi juga dapat menjadi ruang kesaksian iman. Kesaksian itu akan semakin bermakna apabila pesan yang disampaikan sejalan dengan kehidupan nyata, khususnya dalam sikap saling menghormati, kepedulian kepada mereka yang lemah, serta kesediaan untuk melayani tanpa membedakan latar belakang.
Pada akhirnya, tantangan spiritualitas digital bukan terletak pada penggunaan teknologi itu sendiri, melainkan pada bagaimana teknologi digunakan secara bijaksana untuk mendukung panggilan gereja. Teknologi dapat membantu memperluas jangkauan pelayanan, sedangkan kedalaman iman tetap perlu dipelihara melalui doa, persekutuan, pembelajaran firman, dan tindakan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
IV. Jubileum sebagai Momentum Pembaruan dan Penguatan Pelayanan
Setiap peringatan perjalanan panjang sebuah gereja memberikan kesempatan untuk menengok masa lalu dengan rasa syukur, memahami masa kini dengan kejernihan, dan mempersiapkan masa depan dengan pengharapan.
Dalam konteks Jubileum 165 Tahun HKBP, kesempatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat sejumlah komitmen bersama.
Pertama, memperdalam kehidupan spiritual jemaat. Perayaan hendaknya menjadi sumber pembaruan iman yang berkelanjutan, sehingga sukacita bersama tercermin dalam kehidupan keluarga, pekerjaan, dan hubungan sosial.
Kedua, memperkuat pelayanan yang menyentuh kebutuhan nyata. Perhatian terhadap pendidikan, kesehatan, kesejahteraan keluarga, pendampingan kelompok rentan, dan pelayanan diakonia perlu terus dikembangkan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing wilayah pelayanan.
Ketiga, meningkatkan kualitas penatalayanan. Pengelolaan sumber daya gereja perlu didukung oleh perencanaan yang baik, keterbukaan yang proporsional, evaluasi yang objektif, dan pertanggungjawaban yang dapat dipahami oleh jemaat. Dengan demikian, kepercayaan dapat dipelihara dan sumber daya dapat digunakan secara semakin efektif.
Keempat, memperluas peran gereja dalam kehidupan masyarakat. Panggilan untuk menjadi berkat bagi dunia mengajak HKBP terus membangun hubungan yang konstruktif dengan berbagai unsur masyarakat, tanpa kehilangan identitas iman dan komitmen terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Kelima, membangun kesinambungan antar generasi. Generasi muda perlu dilibatkan bukan hanya sebagai peserta kegiatan, melainkan juga sebagai mitra dalam memikirkan masa depan gereja, mengembangkan pelayanan yang relevan, dan meneruskan nilai-nilai iman kepada generasi berikutnya.
Seluruh komitmen tersebut tidak harus diwujudkan melalui satu program besar. Perubahan yang bermakna dapat tumbuh melalui banyak langkah yang konsisten, mulai dari pelayanan di tingkat jemaat, kepedulian terhadap tetangga, pendampingan keluarga yang membutuhkan, hingga program pelayanan yang menjangkau masyarakat lebih luas.
Dengan demikian, Jubileum dapat menjadi titik tolak untuk memperkuat budaya refleksi, pembelajaran, dan pembaruan dalam kehidupan bergereja. Evaluasi tidak dipahami sebagai upaya mencari kesalahan, melainkan sebagai sarana untuk mengenali hal-hal yang telah berjalan baik, memahami tantangan yang masih ada, dan menemukan peluang untuk melayani dengan lebih baik.
Kesimpulan: Dari Perayaan Menuju Kesaksian Hidup
Jubileum 165 Tahun HKBP merupakan kesempatan berharga untuk mensyukuri perjalanan sejarah sekaligus memperbarui komitmen terhadap panggilan gereja. Sukacita perayaan dan kedalaman spiritualitas dapat berjalan beriringan apabila keduanya diarahkan pada tujuan yang sama: memuliakan Allah dan menghadirkan kasih-Nya bagi dunia.
Refleksi teologis tidak dimaksudkan untuk menghakimi keputusan atau motivasi pihak tertentu. Sebaliknya, refleksi merupakan bagian dari perjalanan iman yang mengundang setiap orang untuk terus belajar, mengoreksi diri, dan bertumbuh dalam kebijaksanaan. Dalam semangat itu, pertanyaan mengenai bentuk perayaan, penggunaan sumber daya, dan pemanfaatan media digital dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat pelayanan, bukan untuk mempertentangkan sesama warga gereja.
Prinsip Soli Deo Gloria—hanya bagi kemuliaan Allah—dapat menjadi orientasi bersama dalam melangkah menuju masa depan. Prinsip ini mengingatkan bahwa setiap kemampuan, kesempatan, dan sumber daya yang dimiliki gereja pada akhirnya perlu diarahkan untuk mendukung panggilan pelayanannya.
Karena itu, makna Jubileum tidak hanya terletak pada apa yang dirayakan bersama, tetapi juga pada apa yang terus dihidupi setelah perayaan berakhir. Semangat syukur dapat diteruskan melalui pelayanan yang setia, perhatian terhadap mereka yang membutuhkan, pendidikan yang membangun masa depan, perjuangan bagi keadilan, dan tindakan kasih yang menghadirkan pengharapan.
Kiranya Jubileum 165 Tahun HKBP menjadi momentum untuk semakin mempererat persaudaraan, memperdalam iman, memperkuat penatalayanan, dan memperluas kepedulian kepada sesama. Dengan demikian, setiap jemaat, di mana pun berada, dapat mengambil bagian dalam menghadirkan gereja yang hidup: bukan hanya sebagai persekutuan yang merayakan karya Tuhan, tetapi juga sebagai persekutuan yang terus menghadirkan kasih, pengharapan, dan pemulihan bagi dunia.
Sebab, salah satu buah terpenting dari sebuah Jubileum adalah ketika rasa syukur yang diungkapkan bersama bertumbuh menjadi kesediaan untuk melayani, dan ketika iman yang dirayakan dalam persekutuan semakin nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Santiamer Silalahi. Sekretaris Jenderal Kerukunan Masyarakt Hukum Adat Nusantara (KERMAHUDATARA), 2023-2028. Tinggal di Jakarta.




















































